MODEL PAKEM

2 04 2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia. Tujuan umum pengajaran Bahasa Indonesia  sebagai berikut:

  1. Siswa menghargai dan membanggakan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
  2. Siswa memahami  Bahasa dan Sastra Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta dapat menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan.
  3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emsional, dan kematangan sosial.
  4. Siswa memiliki disiplin dan ketertiban dalam berpikir dan berbahasa.
  5. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
  6. Sarana menyalurkan potensi intelektual, gagasan, dan imajinasi secara kreatif dan konstruktif. (Depdiknas, 2006:5).

Kompetensi dasar Bahasa Indonesia mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis. Aspek-aspek tersebut mendapat porsi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu.

Tujuan kompetensi dasar tersebut  diharapkan siswa mampu mengetahui dan menguasai sistem kaidah-kaidah tata bahasa, penguasaan segi-segi linguistik, penguasaan wacana yang meliputi kemampuan menyusun atau mengorganisasi gagasan-gagasan dalam suatu bentuk  tuturan yang kohesif dan koheren, dan penguasaan strategi yang berupa kemampuan menggunakan strategi verbal maupun nonverbal untuk mengatasi  berbagai macam kesenjangan yang terjadi antara pembicara/penulis dengan pendengar atau pembaca.

Mermperhatikan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di atas sangat penting bagi perkembangan pola berpikir siswa, maka untuk mentranspormasikan kepada siswa perlu diperhatikan metode dan strateginya, sehingga apa yang disampaikan bermanfaat bagi siswa, serta dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat menunjang keberhasilan mata pelajaran lainnya.

Salah satu sarana pencapaian tujuan pengajaran bahasa Indonesia di atas adalah aspek berbicara. Sebab pengajaran berbicara bertujuan agar siswa mampu memilih dan menata gagasan dengan penalaran yang logis dan sistematis, mampu menuangkannya ke dalam bentuk-bentuk tuturan dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, mampu mengucapkannya dengan jelas dan lancar, serta mampu memilih ragam bahasa Indonesia sesuai dengan konteks komunikasi.

Dalam kegiatan berbicara perlu diperhatikan faktor-faktor kebahasan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan seperti pengucapan vokal, konsonan, pilihan kata, dan struktur kalimat. Faktor nonkebahasaan seperti keberanian, semangat, kenyaringan suara, pandangan mata, dan dinamik. Semuanya ini dapat meningkatkan keterampilan berbahasa khususnya keterampilan berbicara.

Untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara banyak terdapat kendala-kendalanya, diantara kendalanya adalah sarana prasarana pendukung yang tersedia, kemampuan guru, metode yang digunakan guru dan minat siswa. Sehingga keterampilan  berbicara siswa sangat memprihatinkan.

Setelah dilakukan ulangan terhadap  siswa  kelas X semester II SMAN 3 Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008 aspek kemampuan berbicara siswa, hanya sekitar 35 % siswa saja yang tuntas.

Memperhatikan data di atas, maka secara klasikal hasil belajar  keterampilan berbicara siswa belum tuntas. Sehubungan dengan itu diperlukan perbaikan dalam metode dan strategi pembelajaran supaya hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh; metode yang digunakan guru tidak sesuai dengan karakteristik materi dan siswa.

Model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) merupakan model pembelajaran yang melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Guru mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu.

Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu mengandung variasi, seperti belajar keterampilan motorik, belajar konsep, belajar sikap, dan seterusnya, Gagne (dalam Mulayasa, 2006:191).

Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini, guru harus menetukan secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai (Mulyasa, 2006:191).

Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dapat dilakukan dengan berbagai model, diantaranya; Model CTL (contectual teaching and learning), bermain peran (role playing), belajar tuntas (mastery learning), dan pembelajaran partisipasi (partisipative teaching and learning) (Mulyasa, 2006:217).

Kunandar (2007:271) mengatakan bahwa Pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekadar “mengetahuinya”. Pembelajaran tidak hanya sekadar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi bagimana siswa mampu memaknai apa yang dipelajari itu. Oleh karena itu, strategi pembelajaran lebih utama dari sekadar hasil. Dalam hal ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka menyadari bahwa apa yang dipelajari akan berguna bagi hidupnya kelak. Dengan demikian, mereka akan lebih semangat dan penuh kesadaran.

Menurur Natawijaya (dalam Kunandar, 2007:272) mengatakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah menfasilitasi siswa dalam menemukan sesuatu yang baru (pengetahuan dan keterampilan) melalui pembelajaran secara sendiri bukan apa kata guru. Siswa benar-benar mengalami dan menemukan sendiri apa yang dipelajari sebagai hasil rekonstruksi sendiri. Dengan demikian, siswa akan lebih produktif dan inovatif. Belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dengan adanya keterlibatan siswa belajar secara langsung akan meningkatkan interaksi siswa dalam mempelajari materi dan memahami  materi ajar. Kondisi ini diharapkan meningkatnya semangat siswa dalam mengemukakan pendapat atau berbicara.

Memperhatikan uraian di atas, penulis merasa terpanggil untuk melakukan perbaikan pembelajaran keterampilan berbicara dengan penggunan model PAKEM (Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning).

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis akan merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah penggunaan Model PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X Semester II SMA Negeri 3 Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008?
  2. Apakah penggunaan Model PAKEM dapat meningkatkan keaktifan, kreatifitas, dan motivasi siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008?

  1. C. Tujuan Penelitian

Penelitian eksperimen ini dilakukan bertujuan untuk:

  1. Untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X Semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008.
  2. Untuk meningkatkan keaktifan, kreatifitas, dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008.

  1. D. Manfaat Penelitian

Penelitian  ini akan bermanfaat antara lain sebagai berikut:

  1. Bagi siswa, model PAKEM merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X semester II SMAN 3 Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008.
  2. Bagi guru, model PAKEM dapat dijadikan salah satu alternatif strategi pembelajaran Bahasa  Indoensia di SMAN 3 Bengkalis.
  3. Bagi sekolah, merupakan bahan masukan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar Bahasa  Indonesia khususnya, dan mata pelajaran lain umumnya di SMAN 3 Bengkalis.
  4. Bagi peneliti dapat dijadikan bahan masukan untuk penelitian yang lebih lanjut.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. Belajar dan Hasil Belajar

Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang berkembang disebabkan oleh belajar. Apa yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar dan hasil belajar dari belajar tersebut tidak dapat diketahui secara langsung jika orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang menampakkan hasil yang diperolehnya dengan belajar.

Menurut Sujana (1990:67) “hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”. Selanjutnya Hudojo, (1990:21) mengemukakan bahwa” dalam kegiatan mental, orang menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian. Siswa menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut sehingga siswa itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari, yang merupakan hasil belajar”.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah penguasaan yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Selanjutnya hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia yang dimaksud pada penelitian atau tindakan ini adalah kemampuan siswa memahami isi wacana yang dipelajari dalam bentuk skor yang diperoleh dari tes hasil belajar dengan menerapkan metode penemuan terbimbing dalam tatanan belajar kelompok pada materi membaca wacana.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu; (1) faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa; (2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa; (3) faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran (Syah, 2002:23).

Berdasarkan kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), bahwa ketentuan ketuntasan minimal keberhasilan/ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa secara individu adalah 65 %, sedangkan ketuntasan secara klasikal adalah 85 %.

  1. B. Model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)

Model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) merupakan model pembelajaran yang melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Guru mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu mengandung variasi, seperti belajar keterampilan motorik, belajar konsep, belajar sikap, dan seterusnya, Gagne (dalam Mulayasa, 2006:191).

Perbedaan tersebut menuntut pembelajaran yang berbeda, sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini, guru harus menetukan secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai (Mulyasa, 2006:1991).

  1. C. Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesiskan, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2006:191)

Lebih lanjut Mulyasa (2006:192) menjelaskan model pembelajaran aktif, guru lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan, dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran.

  1. D. Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain beran, dan pemecahan masalah.

Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk mampu merangsang kreativitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kreatif memiliki empat tahapan; pertama persiapan, yaitu proses pengumpulan berbagai informasi untuk diuji. Kedua inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional. Ketiga ilmunisasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional. Dan keempat verifikasi, yaitu pengujian kembali berhipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau teaori (Mulyasa, 2006:193).

  1. E. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru, dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran (Mulyasa, 2006:1994).

  1. F. Pembelajaran Menyenangkan

Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan. Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik. Untuk mewujudkan proses pebelajaran menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal (Mulyasa, 2006:194).

Pembelajaran PAKEM dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut; pemanasan dan apersepsi, eksplorasi, konsolidasi pembelajaran, pembentukkan kompetensi sikap dan perilaku, dan penilaian (Mulyasa, 2006:196).

Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dapat dilakukan dengan berbagai model, diantaranya; Model CTL (contectual teaching and learning), bermain peran (role playing), belajar tuntas (mastery learning), dan pembelajaran partisipasi (partisipative teaching and learning) (Mulyasa, 2006:217).

  1. G. Pendekatan Kontekstual

Kunandar (2007:271) mengatakan bahwa Pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekadar “mengetahuinya”. Pembelajaran tidak hanya sekadar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi bagimana siswa mampu memaknai apa yang dipelajari itu. Oleh karena itu, strategi pembelajaran lebih utama dari sekadar hasil. Dalam hal ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka menyadari bahwa apa yang dipelajari akan berguna bagi hidupnya kelak. Dengan demikian, mereka akan lebih semangat dan penuh kesadaran.

Menurur Natawijaya (dalam Kunandar, 2007:272) mengatakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah menfasilitasi siswa dalam menemukan sesuatu yang baru (pengetahuan dan keterampilan) melalui pembelajaran secara sendiri bukan apa kata guru. Siswa benar-benar mengalami dan menemukan sendiri apa yang dipelajari sebagai hasil rekonstruksi sendiri. Dengan demikian, siswa akan lebih produktif dan inovatif. Belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Konstektual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggoata keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengatahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Dalam kelas konstektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri, bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan konstektual.

Menurut Zahorik (dalam Depdiknas, 2002:7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual, yaitu:

(1)   Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada

(2)   Pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan terlebih dulu, kemudian memperhatikan detailnya.

(3)   Pemahaman pengetahuan, yaitu dengan cara menyusun; konsep sementara, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan dan atas tanggapan itu, konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.

(4)   Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut.

(5)   Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengatahuan tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas CTL mengharapkan siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.

Ada tujuh komponen utama pembelajaran efektif CTL, yaitu;

  1. Konstruktivisme (Constructivisme),
  2. Bertanya (Questioning),
  3. Menemukan (inquiry),
  4. Masyarakat belajar (Learning Community),
  5. Pemodelan (Modeling),
  6. Refleksi (Refelection), dan
  7. Penelaian sebenarnya (Authentic Assesment).

(Depdiknas, 2002:12)

Karakteristik pemebelajaran CTL meliputi; kerjasama, saling menunjang, menyenangkan tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa.

Menurut Jonson (2002 dalam Kunandar, 2007:274) ada delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut.

  1. Melakukan hubungan yang bermakna. Artinya, siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individu dan kelompok.
  2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan. Artinya, siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisinis dan sebagai anggota masyarakat.
  3. Belajar yang diatur sendiri.
  4. Bekerjasama.
  5. Berpikir kreatif dan kritis.
  6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa. Artinya, siswa memelihara pribadinya; mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi, dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa.
  7. Mencapai  standar yang tinggi. Artinya, siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi; mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.
  8. Menggunakan penilaian autentik.

Menurut The Northwest Regional Education Laboratory USA (dalam Kunandar, 2007:275) mengidentifikasi adanya enam kunci dasar dari pembelajaran kontekstual, sebagai berikut.

  1. Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi, dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa di dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata siswa mengerti manfaat isi pembelajaran.
  2. Penerapan pengetahuan, yaitu kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi di masa sekarang atau di masa yang akan datang.
  3. Berpikir tingkat tinggi.
  4. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar.
  5. Responsif terhadap budaya.
  6. Penilaian autentik. Penggunaan berbagai strategi penilaian, misalnya penilaian proyek/tugas terstruktur, kegiatan siswa, penggunaan portopolio, rubrik, daftar cek, pedoman observasi, dan sebagainya.

Menurut Konandar (2007:276) ada tiga belas ciri-ciri pembelajaran kontekstual, yaitu.

  1. Adanya kerja sama antar semua pihak
  2. Menekan pentingnya pemecahan masalah atau problem.
  3. Bermuara pada keragaman konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.
  4. Saling menunjang.
  5. Menyenangkan, tidak membosankan.
  6. Blajara dengan bergairah.
  7. Pembelajaran terintegrasi
  8. Menggunakan berbagai sumber.
  9. Siswa aktif.

10.  Sharing dengan teman.

11.  Siswa kritis, guru kreatif.

12.  Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan sebagainya.

13.  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa, dan sebagainya.

  1. H. Hubungan Hasil Belajar dengan Model PAKEM (CTL)

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa  Indonesia adalah strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Dengan menerapkan Model PAKEM akan dapat meningkat hasil belajar siswa. Dengan menggunakan model PAKEM  akan memungkinkan siswa untuk menemukan konsep dan pemahaman berdasarkan serentetan pengalaman masa lampau. Pada metode ini siswa berusaha  menemukan konsep dan pemahaman dengan sedikit bimbingan dari guru.

Uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa penerapan model PAKEM dipandang tepat untuk diterapkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan Model PAKEM ini siswa akan lebih terbuka, berfikir kritis  jika ia mengalami masalah yang tidak dapat dipecahkannya. Terciptanya iklim belajar di mana siswa lebih terbuka dengan permasalahan yang dihadapinya, dan belajar lebih bermakna akan menpercepat dan meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang dipelajarinya. Sehingga, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Di samping itu, dengan suasana belajar yang sedemikian rupa, proses pembelajaran lebih kondusif dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebelumnya akan lebih memungkinkan tercapai.

  1. I. Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara adalah kemampuan berbahasa yang menggunakan medium bahasa lisan (oral). Dengan keterampilan berbicaralah pertama-tama kita memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat tempat kita berada.

Dengan keterampilan berbicara kita dapat menyampaikan berbagai macam informasi (fakta, peristiwa, gagasan, pendapat, tanggapan, dan sebagainya), kita dapat mengemukakan kemauan dan keinginan, serta mengungkapkan berbagai macam perasaan. Penyampaian berbagai hal dengan keterampilan berbicara tersebut berlangsung dalam berbagai peristiwa komunikasi. Setiap peristiwa komunikasi melibatkan pembicara dan pendengar yang berada dalam interaksi yang bersifat aktif dan kreatif.

Menurut G. Maidar dan Mukti (1991:1) kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang perlu dimiliki oleh seseorang, terutama siswa/mahasiswa sebagai calon ilmuan. Kemampuan ini bukanlah kemampuan yang diwariskan secara turun temurun, walau kemampuan berbicara secara formal memerlukan latihan dan pengarahan atau bimbingan yang intensif.

Berbicara sebenarnya dapat dilakukan oleh semua orang, tetapi berbicara yang penulis maksudkan adalah kemampuan berbicara yang bersifat formal yang memerlukan latihan dan pendidikan.

Tarigan (1981:15) mengatakan bahwa tujuan utama berbicara adalah berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif maka seyogyanyalah sang pembicara memahami maksud segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala setuasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.

Menurut Tarigan (1981:17) ada lima faktor yang harus diperhatikan dalam keterampilan berbicara siswa, yaitu:

1)      Apakah bunyi-bunyi (vokal dan konsonan) diucapkan dengan tepat?

2)      Apakah intonasi, naik turunnya suara serta tekanan suku kata memuaskan?

3)      Apakah ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang pembicara memahami bahasa yang digunakan?

4)      Apakah kata-kata yang diucapkan itu dalam bentuk urutan yang tepat?

5)      Sejauhmanakah kewajaran atau kelancaran yang tercermin bila seseorang berbicara?

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran keterampilan berbicara bertujuan agar siswa mampu memilih dan menata gagasan dengan penalaran yang logis dan sistematis, mampu menuangkannya ke dalam bentuk-bentuk tuturan dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, mampu mengucapkannya dengan jelas dan lancar, serta mampu memilih ragam bahasa Indonesia sesuai dengan konteks komunikasi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Bentuk Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan adalah: “Salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan fakta-fakta, dan mengembangkan kemampuan analisis” (Depdikbud, 1999:1)

Skope penelitian ini adalah Classrom Action Research, yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau sekolah tempat peneliti mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses praktis pembelajaran dengan menerapkan Model PAKEM (Pendekatan CTL).

B. Objek Penelitian

Objek penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas X  semester II SMAN 3 Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008  yang terdiri atas delapan kelas dengan jumlah siswa keseluruhan 285 siswa.

C. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas X.6 SMAN 3 Bengkalis Tahun Pelajaran  2007/2008 yang berjumlah 41 orang, penentuan subyek penelitian ini dilakukan secara acak atau diundi.

D. Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penggunaan model PAKEM terdiri atas tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi.

  1. Perencanaan
    1. Menetukan jumlah siklus, yaitu sebanyak dua siklus.
    2. Menentukan materi pembelajaran
    3. Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
    4. Membuat alat evaluasi (instrumen)
    5. Membuat lembar observasi
  2. Pelaksanaan

Pada tahap ini dilaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model PAKEM (Pendekatan CTL) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

No Langkah

Langkah

Kegiatan

Guru Siswa
A Pendahuluan (lebih kurang 10 menit)

  1. Apersepsi
  2. Memotivasi siswa
  3. Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran
  4. Mengelompokkan Siswa
  1. Siswa Menerima Penjelasan guru
  2. Siswa berkelompok
B Inti (75 Menit)
1. Konstruktivisme Guru mempersiapkan persoalan yang muncul di permukaan umum Siswa mempersiapkan diri untuk menerima persoalan/masalah
2. Menemukan

(Inquiri)

Meminta siswa mendengarkan atau membaca masalah yang muncul Siswa mendengarkan atau menerima persoalan atau masalah yang muncul. Dan  Mencatat hal-hal penting.
3. Bertanya

(Questioning)

-          Guru meminta siswa bertanya jika mengalami kendala menyelesaikan pekerjaan

-          Mengajukan pertanyaan untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa

-          Siswa mengajukan pertanyaan, jika ada yang tidak paham.

-          Menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

4. Masyarakat Belajar

(Learning Community)

Meminta siswa mendiskusikan informasi yang diperdengarkan melalui diskusi kelas, sekaligus membuat simpulan informasi Melakukan diskusi kelas, dan membuat simpulan informasi.
5. Pemodelan

(Modeling)

Membentuk personil diskusi

-          Moderator

-          Notulen

-          Kelompok penyaji

Melakukan kerja sesuai dengan tugas yang diberikan
6. Refleksi

(Reflection)

Guru melakukan refleksi terhadap materi yang di diskusikan berupa:

-          Pertanyaan langsung mengenai materi

-          Melihat pekerjaan siswa

-          Dan meminta kesan dan pesan siswa terhadap pembelajaran yang telah berlangsung.

-          Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

-          Siswa mengumpulkan pekerjaannya.

-          Memberikan kesan dan pesan kepada guru.

7. Penilaian yang Sebenarnya

(Autentic Assesment)

-          Guru mengajak siswa menilai pekerjaannya, dengan cara menukarkan pekerjaan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

-

-          Melakukan penilaian terhadap pekerjaan temannya.
C Penutup (5 menit)
-          Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.

-          Guru mengadakan evaluasi

-          Guru memberikan penghargaan kepada siswa/kelompok yang lebih baik hasilnya.

-          Memberi PR

-          Menutup Kelas

-          Menyimpulkan materi

-          Menerima PR

-          Mengerjakan PR di rumah.

  1. Pengamatan

Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan (observasi) yang dilakukan oleh seorang observer.

  1. Refleksi

Data yang diperoleh dari kegiatan pengamatan dan hasil belajar siswa, kemudian dianalisis. Hasil kegiatan tersebut dapat menjadi pedoman untuk melakukan tindakan pada siklus berikutnya.

  1. E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
  2. Lembar Evaluasi (Test)
  3. Lembar Observasi

  1. F. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan pada penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

  1. Jenis Tagihan
  • Individu
  1. Teknik Tes
  • Tes tertulis
  • Performans
  1. Bentuk Tes
  • Uraian
  • Kemampuan Berbicara (Praktik)

  1. G. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dikelompokkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif (analisis ketuntasan belajar). Analisis ini bertujuan untuk memperlihatkan tingkat penguasaan dan ketuntasan/keberhasilan  belajar siswa. Seorang siswa dikatakan tuntas secara individu, apabila siswa tersebut memperoleh daya serap minimal 65, sedangkan ketuntasan klasikal sebesar (85%). Persentase ketuntasan ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

  1. Ketuntasan Belajar Siswa Individu (KBSI), menggunakan rumus:

KBSI         = Skor Yang Diperoleh Siswa x 100%

Skor Maksimal

  1. Ketuntasan Belajar Siswa Klasikal (KBSK), menggunakan rumus:

KBSK       = Jumlah Siswa Yang Tuntas x 100%

Jumlah Siswa Keseluruhan

  1. Daya Serap Siswa (DSS), menggunakan rumus:

DSS           = ∑ Skor Perolehan x 100%

Skor Maksimal (Depdikbud, 1995)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. Gambaran Selintas Tentang Setting

Setting penelitian tindakan kelas ini adalah SMA Negeri 3 Bengkalis. Sekolah ini merupakan tempat penulis bekerja sehar-hari. SMAN 3 Bengkalis ini berlokasi  di jantung kota Kabupaten Bengkalis. Bangunan fisik sekolahnya dibangun di atas tanah seluas 8.853 M2. Pada tahun pelajaran 2007/2008 jumlah rombongan belajar berjumlah 24 kelas,  dengan jumlah siswa keseluruhan sebanyak 930 siswa. Pelaksanaan belajar mengajar dilaksanaan pada  pagi hari.

Kondisi guru di SMAN 3 Bengkalis berjumlah 57 orang, yang terdiri dari 33 orang guru negeri dan 24 orang orang guru honor daerah dan guru bantu baik dari provinsi maupun  pusat. Sedangkan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berjumlah lima orang, tiga orang guru negeri dan dua orang guru honor daerah. Pelaksanaan proses belajar mengajar insya-Allah berjalan lancar dan terkendali.

  1. B. Pelaksanaan Tindakan

SIKLUS I

  1. Perencanaan
  2. Menentukan jumlah siklus, yaitu sebanyak dua siklus.
  3. Menentukan materi pembelajaran
  4. Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
  5. Membuat alat evaluasi (instrumen)
  6. Membuat lembar observasi

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus I ini adalah sebagai berikut :

  1. Konstruktivisme. Guru mempersiapkan persoalan yang muncul di permukaan umum. Siswa mendengarkan atau menerima persoalan atau masalah yang muncul. Dan  Mencatat hal-hal penting.
  2. Guru mengelompokkan siswa 5-6 orang siswa/kelompok
  3. Menemukan (Inquiri). Siswa mendengarkan atau menerima persoalan atau masalah yang muncul. Dan  Mencatat hal-hal penting.
  4. Bertanya (Questioning). Guru meminta siswa bertanya jika mengalami kendala menyelesaikan pekerjaan. Siswa mengajukan pertanyaan, jika ada yang tidak paham. Menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
  5. Masyarakat Belajar (Learning Community). Meminta siswa mendiskusikan informasi yang diperdengarkan melalui diskusi kelas, sekaligus membuat simpulan informasi. Melakukan diskusi kelas, dan membuat simpulan informasi.
  6. Pemodelan (Modeling). Membentuk personil diskusi, Moderator, Notulen, Kelompok penyaji.
  7. Refleksi (Reflection). Guru melakukan refleksi terhadap materi yang di diskusikan berupa: Pertanyaan langsung mengenai materi. Melihat pekerjaan siswa. Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Siswa mengumpulkan pekerjaannya. Memberikan kesan dan pesan kepada guru.
  8. Penilaian yang Sebenarnya (Autentic Assesment). Guru mengajak siswa menilai pekerjaannya, dengan cara menukarkan pekerjaan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Melakukan penilaian terhadap pekerjaan temannya
  9. Dan meminta kesan dan pesan siswa terhadap pembelajaran yang telah berlangsung
  10. Mengajukan pertanyaan untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa.

  1. Pengamatan

Hasil pengamatan pelaksanaan pengamatan tindakan pada siklus I ditemui hal-hal sebagai berikut :

  1. Siswa belajar bergairah
  2. Siswa mengerjakan tugas dengan semangat, walaupun ada yang salah menyelesaikan soal.
  3. Masih dijumpai siswa diam saja apabila mengalami kendala menyelesaikan pekerjaannya.
  4. KBM berjalan kurang lancar dan bersemangat.
  5. Suasana kelas rebut karena menggunakan pendekatan baru.

  1. Refleksi

Berdasarkan kenyataan yang ditemui dalam kegiatan monitoring dan hasil tes siswa pada siklus I, peneliti dapat merefleksikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Hasil belajar siswa mulai meningkat, baik dari jumlah siswa maupun dari peningkatan angka yang diperoleh siswa.
  2. Ada sebagian siswa belum paham dengan prosedur pendekatan PAKEM (CTL)
  3. Karena masih banyak siswa yang nilainya belum tuntas, maka perlu dilakukan pada siklus II perbaikannya.

SIKLUS II

  1. Perencanaan
  1. Menentukan jumlah siklus, yaitu sebanyak dua siklus.
  2. Menentukan materi pembelajaran
  3. Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
  4. Membuat alat evaluasi (instrumen)
  5. Membuat lembar observasi

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus II ini tetap memberlakukan siklus I dengan berbagai revisi sebagai berikut:

  1. Memberikan kepercayaan kepada siswa untuk mengkondisikan pekerjaannya.
  2. Membimbing siswa mengerjakan tugasnya.
  3. Memberi hadiah kepada siswa yang cepat dan benar mengerjakan tugasnya.

  1. Pengamatan

Hasil pengamatan pelaksanaan tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut :

  1. Kegairahan siswa terpancar melalui semangat mengerjakan tugas.
  2. KBM berjalan lancar, hal ini terlihat dari ketapatan siswa menyelesaikan tugasnya.
  3. Siswa bekerja dengan kepercayaan diri yang tinggi.
  4. Siswa sudah mampu mengatasi permasalahan yang ditemuinya.
  5. Suasana sudah kondusif.
  6. Hasil belajar meningkat.

  1. Refleksi

Berdasarkan kenyataan yang ditemui dalam kegiatan moniting dan hasil tes siswa pada siklus II, peneliti dapat merefleksikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Siswa sudah terbiasa dengan pendekatan PAKEM (CTL).
  2. Kegagalan belajar siswa sudah teratasi, hal ini dapat dilihat pada hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa meningkat, baik kualitas maupun kuantitas.
  3. Motivasi belajar siswa tinggi
  4. Aktivitas siswa tinggi.
  5. Karena hasil belajar siswa meningkat, dan tingkat kegagalan siswa sudah berkurang, maka tidak dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.
  1. C. Analisis Data Temuan Penelitian

Data hasil penelitian (lampiran 1 dan 2) ketuntasan individu dan klasikal siswa kelas X.6 Semester II SMAN 3 Bengkalis Kecamatan Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008 dengan menerapkan model PAKEM dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 1 Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Aspek Berbicara Siswa Kelas X Semester II SMAN 3 Bengkalis Kecamatan Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008
No Kegiatan Ketuntasan Belajar
Individu Klasikal
Tuntas Tidak Tuntas
N (%) N (%) N (%)
1 Ulangan I (Siklus I) 36 (88%) 5 (12%) 88% (Tuntas)
2 Ulangan II (Siklus II) 39 (96%) 2 (4%) 96% (Tuntas)

Data pada Tabel 1 di atas mengambarkan hasil belajar setelah dilakukan perbaikan sangat mengembirakan. Pada siklus I ketuntasan individu siswa terdapat sebanyak 36 (88%) dan siswa yang tidak tuntas 5 (12%). Setelah dilakukan perbaikan tindakan pada siklus II, ketuntasan individu siswa  meningkat menjadi 39 (96%) siswa yang tuntas dan sebanyak 2 (4%) siswa yang tidak tuntas, mengalami peningkatan sebesar (8%).

Demikian juga halnya dengan ketuntasan klasikal. Pada siklus I hanya (88%) siswa yang tuntas, pada siklus II ketuntasan klasikal siswa mengalami peningkatan menjadi (96%), meningkat sebesar (8%).

Di samping peningkatan ketuntasan individu dan klasikal siswa motivas, aktivitas dan kreativitas siswa juga mengalami peningkatan. Dimana keaktivan dan kreativitas belajar siswa sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dari keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Di samping itu suasana dan kelancaran belajar pun terlihat dari ketertiban siswa dalam melaksanakan pekerjaannya, dimana siswa bekerja sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Data hasil penelitian (lampiran 1 dan 1) daya serap siswa kelas X Semester II SMAN 3 Bengkalis Kecamatan Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008 dengan menerapkan Model PAKEM dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 2 Daya Serap Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Aspek Berbicara Berdasarkan Nilai Ulangan Harian Pada Siswa Kelas X Semester II SMAN Bengkalis Kecamatan Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008
No Kategori Siklus I Siklus II
N (%) N (%)
1 90-100 (Amat Baik) 9 (22%) 20 (49%)
2 80-89   (Baik) 15 (37%) 5 (12%)
3 70-79   (Cukup) 12 (29%) 14 (34%)
4 60-69   (Kurang) 0 (0%) 0 (0%)
5 < 60     (Amat Kurang) 5 (12%) 2 (5%)
Rata-Rata (Daya Serap) 76% 83%

Data pada Tabel 2 di atas tentang daya serap siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dijelaskan, bahwa pada siklus I siswa yang memperoleh rentang nilai 90-100 9 (22%), tetapi setelah dilakukan perbaikan pada siklus II  mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yaitu sebanyak 20 (45%), mengalami peningkatan sekitar (23%). Sedangkan siswa yang memperoleh nilai < 60 pada siklus I terdapat sebanyak 5 (12%). Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, siswa yang memperoleh nilai < 60 sudah berkurang, hanya tinggal 2 (5%) siswa saja, mengalami penurunan sebesar (7%).

Sedangkan daya serap siswa pada siklus I hanya sebesar 76%. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, daya serap siswa mengalami peningkatan menjadi (83%), mengalami peningkatan sebesar (7%).

  1. D. Pembahasan

Setelah dilakukan pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan refleksi atas perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara terhadap siswa kelas X semester II SMAN 3 Bengkalis Kecamatan Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008, diperoleh hasil pembelajaran siswa, motivasi dan aktifitas belajar siswa menunjukkan hasil belajar siswa sangat positif. Baik dari segi ketuntasan individu, ketuntasan klasikal, dan daya serap siswa (lampiran 1 dan 2).

Pada siklus I ketuntasan belajar siswa, baik ketuntasan individu maupun klasikal mengalami peningkatan cukup signifikan. Dari 41 siswa yang mengikuti evaluasi terdapat 36 (88%) siswa yang tuntas dan hanya 5 (12%) siswa yang tidak tuntas. Selanjutnya setelah dilakukan perbaikan pada siklus II terdapat sebanyak 39 (96%) siswa yang tuntas dan hanya 2 (4%) siswa yang tidak tuntas, mengalami peningkatan ketuntasan sebesar (8%).

Ketuntasan klasikal pada siklus I hanya (88%), setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, ketuntasan klasikal siswa meningkat lagi menjadi (96%), meningkat sebesar (8%).

Sedangkan daya serap siswa pada siklus I hanya sebesar (76%), setelah dilakukan perbaikan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi (83%), meningkat sebesar (12%).

Di samping peningkatan ketuntasan individu, ketuntasan klasikal, dan daya serap siswa, juga terjadi peningkatan terhadap motivasi, minat, aktivitas dan kreativitas siswa dalam mengikuti pembelejaran. Faktor itulah yang menyebabkan hasil belajar siswa meningkat. Para ahli mengatakan, apabila motivasi dan minat belajar siswa tinggi terhadap suatu mata pelajaran dipastikan hasilnya akan baik.

Sehubungan dengan penerapan model PAKEM pada mata pelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara sangat tepat sekali digunakan. Sebab model PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Meningkatnya hasil belajar Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara, disebabkan pelaksanaan model PAKEM melibatkan secara langsung siswa dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya mendengar materi yang disampaikan guru, tetapi lebih dari itu siswa dilibatkan dalam menentukan dan mencari materi pembelajaran, kemudian meminta siswa merenungkan hipotesis materi pembelajaran, selanjutnya menemukan keyakinan terhadap jawaban yang diberikan

Dengan keterlibatan secara langsung siswa dalam proses pembelajaran tersebut, akan memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan guru. Di samping itu, akan memudahkan siswa mencerna dan mengimplementasikan materi ajar ke dalam bentuk soal-soal yang diberikan guru.

BAB V

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Hasil penelitian berkesimpulan

  1. Model PAKEM (Pendekatan CTL) dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X.6 Semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008 (lihat lampiran 1 dan 2).
  2. Model PAKEM (Pendekatan CTL) dapat meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan motivasi belajar siswa pada Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X.6 Semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dan selanjutnya ditarik kesimpulan, maka penulis menyaran sebagai berikut:

  1. Gunakanlah Model PAKEM (Pendekatan CTL), sebab model PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X.6 Semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008.
  2. Gunakanlah Model PAKEM (Pendekatan CTL), sebab model PAKEM dapat meningkatkan keaktifan, kreativitas, dan motivasi  siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara siswa kelas X.6 semester II SMA Negeri 3 Bengkalis tahun pelajaran 2007/2008.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1995. Sistem Penilaian Pembelajaran. Jakarta. Depdikbud.

Depdikbud. 1999. Penelitian Tindak Kelas. Jakarta:Depdikbud.

Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas, 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:Depdiknas.

Hudojo, Herman. 1990. Pengembangan Kurikulum. Surabaya: Usaha Nasional.

Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung:PT Remaja RosdaKarya.

Sudjana, Nana. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:Sinar Baru Algensindo.

Sujana, 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Syah, Muhidin. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Tarigan, H.G. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:Angkasa.

U.S. Mukti dan Maidar G. Arsyad. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta:Erlangga.

Lampiran 1

Hasil Belajar Bahasa Indonesia  Aspek Keterampilan Berbicara Siklus I

No Nama Siswa Nilai Perolehan Skor Maksimal % Ketuntasan
Tuntas Tdk Tts
01 ALZIKRI 70 100 70 Ö
02 ANDRIAN R 80 100 80 Ö
03 CHIKI D 90 100 90 Ö
04 DARMANSYAH 70 100 70 Ö
05 DELISMA 90 100 90 Ö
06 DESI. A 70 100 70 Ö
07 DIAN P.S 70 100 70 Ö
08 EDIYANTO 80 100 80 Ö
09 ELVIZA 90 100 90 Ö
10 ENI. FT 80 100 80 Ö
11 FARAHANA 50 100 50 Ö
12 FITRI. WY 80 100 80 Ö
13 HERAYNTO. B 90 100 90 Ö
14 HERI. SST 80 100 80 Ö
15 HERMANTO 80 100 80 Ö
16 IDA 70 100 70 Ö
17 IRIS. S 90 100 90 Ö
18 IZAN SY 55 100 55 Ö
19 M. ARMAN. M 70 100 70 Ö
20 M. FIKRI 70 100 70 Ö
21 M. HAFIZ. M 90 100 90 Ö
22 MANSYUR 70 100 70 Ö
23 OGI. Z 90 100 90 Ö
24 OVI DS 70 100 70 Ö
25 PENDI 70 100 70 Ö
26 RAHMAD. HD 80 100 80 Ö
27 RENI SINTIA 90 100 90 Ö
28 RIA SARAH 70 100 70 Ö
29 RINI. A 80 100 80 Ö
30 SANTI 70 100 70 Ö
31 SAPUTRA 50 100 50 Ö
32 SEPRIL. AJ 80 100 80 Ö
33 SHINTA W.S 90 100 90 Ö
34 SINTA 80 100 80 Ö
35 SUNANTO 50 100 50 Ö
36 SURIANTO 80 100 80 Ö
37 TAUFIK. T 80 100 80 Ö
38 TEDDY. O 80 100 80 Ö
39 VIVI. A 80 100 80 Ö
40 YANDIKA. Y 55 100 55 Ö
41 ZULKIFLI 80 100 80 Ö
Jumlah 3110 36 5
Persen 76% 88% 12%

Lampiran 2

Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siklus II

No Nama Siswa Nilai Perolehan Skor Maksimal % Ketuntasan
Tuntas Tdk Tts
01 ALZIKRI 90 100 90 Ö
02 ANDRIAN R 90 100 90 Ö
03 CHIKI D 90 100 90 Ö
04 DARMANSYAH 90 100 90 Ö
05 DELISMA 90 100 90 Ö
06 DESI. A 80 100 80 Ö
07 DIAN P.S 70 100 70 Ö
08 EDIYANTO 90 100 90 Ö
09 ELVIZA 80 100 80 Ö
10 ENI. FT 90 100 90 Ö
11 FARAHANA 80 100 80 Ö
12 FITRI. WY 90 100 90 Ö
13 HERAYNTO. B 80 100 80 Ö
14 HERI. SST 90 100 90 Ö
15 HERMANTO 80 100 80 Ö
16 IDA 90 100 90 Ö
17 IRIS. S 80 100 80 Ö
18 IZAN SY 80 100 80 Ö
19 M. ARMAN. M 70 100 70 Ö
20 M. FIKRI 80 100 80 Ö
21 M. HAFIZ. M 90 100 90 Ö
22 MANSYUR 80 100 80 Ö
23 OGI. Z 90 100 90 Ö
24 OVI DS 70 100 70 Ö
25 PENDI 80 100 80 Ö
26 RAHMAD. HD 90 100 90 Ö
27 RENI SINTIA 90 100 90 Ö
28 RIA SARAH 80 100 80 Ö
29 RINI. A 90 100 90 Ö
30 SANTI 80 100 80 Ö
31 SAPUTRA 55 100 55 Ö
32 SEPRIL. AJ 90 100 90 Ö
33 SHINTA W.S 80 100 80 Ö
34 SINTA 90 100 90 Ö
35 SUNANTO 70 100 70 Ö
36 SURIANTO 90 100 90 Ö
37 TAUFIK. T 90 100 90 Ö
38 TEDDY. O 80 100 80 Ö
39 VIVI. A 90 100 90 Ö
40 YANDIKA. Y 55 100 55 Ö
41 ZULKIFLI 80 100 80 Ö
Jumlah 3390 39 2
Persen 83% 96% 4%

Lampiran 3

LEMBAR OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA ASPEK BERBICARA SISWA KELAS X SEMESTER II SMAN 3 BENGKALI TAHUN PELAJARAN  2007/2008.

TATAP MUKA PERTAMA (I) SIKLUS I

No Aspek Yang Diamati Skala
1 2 3 4
1. Aktivitas belajar siswa Ö
2. Motivasi Siswa (Keseriusan, sungguh-sungguh, tekun, tanggung jawab) Ö
3. Semangat Belajar Siswa Ö
4. Keterlibatan siswa dalam belajar Ö
5. Mengemukakan pendapat Ö
6. Menanggapi pertanyaan teman/guru Ö
7. Megajukan pertanyaan terhadap teman / guru Ö
8. Memecahkan masalah Ö
9. Kelogisan berargumentasi Ö
10. Sopan santun belajar sesama teman Ö
11. Sopan santun terhadap guru Ö
12. Suasana PBM Ö
13. Kesungguhan mempertahankan pendapat Ö
14. Pemanfaatan waktu Ö
15. Pengumpulan tugas tepat waktu Ö
16. Pemanfaat waktu dalam berbicara Ö
17. Sistematis dalam berbicara Ö
18. Kerjasama dalam kelompok Ö
19. Keterlibatan dalam kelompok Ö
20. Menghargai pendapat teman Ö
21 Minat Belajar Ö
22. Kelancaran PBM Ö

Keterangan

Skala 4                        = Sangat baik

Skala 3                        = Baik

Skala 2                        = Sedang

Skala 1            = Kurang

Lampiran 4

LEMBAR OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA ASPEK BERBICARA SISWA KELAS X SEMESTER II SMAN 3 BENGKALI TAHUN PELAJARAN  2007/2008.

TATAP MUKA PERTAMA (II) SIKLUS I

No Aspek Yang Diamati Skala
1 2 3 4
1. Aktivitas belajar siswa Ö
2. Motivasi Siswa (Keseriusan, sungguh-sungguh, tekun, tanggung jawab) Ö
3. Semangat Belajar Siswa Ö
4. Keterlibatan siswa dalam belajar Ö
5. Mengemukakan pendapat Ö
6. Menanggapi pertanyaan teman/guru Ö
7. Megajukan pertanyaan terhadap teman / guru Ö
8. Memecahkan masalah Ö
9. Kelogisan berargumentasi Ö
10. Sopan santun belajar sesama teman Ö
11. Sopan santun terhadap guru Ö
12. Suasana PBM Ö
13. Kesungguhan mempertahankan pendapat Ö
14. Pemanfaatan waktu Ö
15. Pengumpulan tugas tepat waktu Ö
16. Pemanfaat waktu dalam berbicara Ö
17. Sistematis dalam berbicara Ö
18. Kerjasama dalam kelompok Ö
19. Keterlibatan dalam kelompok Ö
20. Menghargai pendapat teman Ö
21 Minat Belajar Ö
22. Kelancaran PBM Ö

Keterangan

Skala 4                        = Sangat baik

Skala 3                        = Baik

Skala 2                        = Sedang

Skala 1            = Kurang

Lampiran 5

LEMBAR OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA ASPEK BERBICARA SISWA KELAS X SEMESTER II SMAN 3 BENGKALI TAHUN PELAJARAN  2007/2008.

TATAP MUKA PERTAMA (I) SIKLUS II

No Aspek Yang Diamati Skala
1 2 3 4
1. Aktivitas belajar siswa Ö
2. Motivasi Siswa (Keseriusan, sungguh-sungguh, tekun, tanggung jawab) Ö
3. Semangat Belajar Siswa Ö
4. Keterlibatan siswa dalam belajar Ö
5. Mengemukakan pendapat Ö
6. Menanggapi pertanyaan teman/guru Ö
7. Megajukan pertanyaan terhadap teman / guru Ö
8. Memecahkan masalah Ö
9. Kelogisan berargumentasi Ö
10. Sopan santun belajar sesama teman Ö
11. Sopan santun terhadap guru Ö
12. Suasana PBM Ö
13. Kesungguhan mempertahankan pendapat Ö
14. Pemanfaatan waktu Ö
15. Pengumpulan tugas tepat waktu Ö
16. Pemanfaat waktu dalam berbicara Ö
17. Sistematis dalam berbicara Ö
18. Kerjasama dalam kelompok Ö
19. Keterlibatan dalam kelompok Ö
20. Menghargai pendapat teman Ö
21 Minat Belajar Ö
22. Kelancaran PBM Ö

Keterangan

Skala 4                        = Sangat baik

Skala 3                        = Baik

Skala 2                        = Sedang

Skala 1            = Kurang

Lampiran 6

LEMBAR OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA ASPEK BERBICARA SISWA KELAS X SEMESTER II SMAN 3 BENGKALI TAHUN PELAJARAN  2007/2008.

TATAP MUKA PERTAMA (II) SIKLUS II

No Aspek Yang Diamati Skala
1 2 3 4
1. Aktivitas belajar siswa Ö
2. Motivasi Siswa (Keseriusan, sungguh-sungguh, tekun, tanggung jawab) Ö
3. Semangat Belajar Siswa Ö
4. Keterlibatan siswa dalam belajar Ö
5. Mengemukakan pendapat Ö
6. Menanggapi pertanyaan teman/guru Ö
7. Megajukan pertanyaan terhadap teman / guru Ö
8. Memecahkan masalah Ö
9. Kelogisan berargumentasi Ö
10. Sopan santun belajar sesama teman Ö
11. Sopan santun terhadap guru Ö
12. Suasana PBM Ö
13. Kesungguhan mempertahankan pendapat Ö
14. Pemanfaatan waktu Ö
15. Pengumpulan tugas tepat waktu Ö
16. Pemanfaat waktu dalam berbicara Ö
17. Sistematis dalam berbicara Ö
18. Kerjasama dalam kelompok Ö
19. Keterlibatan dalam kelompok Ö
20. Menghargai pendapat teman Ö
21 Minat Belajar Ö
22. Kelancaran PBM Ö

Keterangan

Skala 4                        = Sangat baik

Skala 3                        = Baik

Skala 2                        = Sedang

Skala 1            = Kurang

Lampiran 7

INSTRUMEN TES ASPEK KOGNITIF/PERFORMANCE

KETERAMPILAN BERBICARA

(JAWABAN TULISAN/LISAN)

SIKLUS I

PETUNJUK:

  1. Bacalah wacana di bawah ini!
  2. Kerjakan pekerjaan ini dengan individu!
  3. Tagihan dilaporkan secara lisan!

Wacana 1 (soal 1-5)

Ambalat Lanjutan Alamiah Kaltim

Blok Ambalat dan Ambalat Timur yang diklaim Malaysia merupakan kelanjutan alamiah dari daratan Kalimantan Timur. Antara Sabah, Malaysia dan kedua blok itu terdapat laut dalam yang tak mungkin bisa dikatakan bahwa kedua blok itu kelanjutan alamiah Sabah. Kelanjutan alamiah dari daratan merupakan kewenangan negara atas wilayah laut yang tercantum dalam konvensi hukum laut internasional 1982.

Demikian diungkapkan ahli hukum laut internasional Hasyim Djalal “Indonesia harus mampu memberikan bukti ilmiah bahwa kelanjutan daratan Kalimantan Timur sampai di Blok Ambalat dan Ambalat Timur atau bahkan lebih dari itu”. “Harus bisa dibuktikan pula bahwa kelanjutan alamiah dari Sabah tidak sampai ke sana. Bagaimana membuktikannya, harus orang-orang teknis dan ahli yang mengerjakannya,” ujar Hasyim.

Ia mencatat, antara Sabah dan Blok Ambalat Timur terdapat pemisahan walaupun dalam satu kontinen. Tempat-tempat dalam itu berada di dekat Sabah dan sangat jauh dari dua blok itu.

“Sipadan sebenarnya juga terpisah oleh laut yang dalam dengan Sabah,” kata Hasyim. Namun, pada kasus Sipadan dan Ligitan Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia karena dianggap secara de facto Malaysia lebih dulu mengelolanya.

Disadur Dari : Kompas, 9 Maret 2005

Pertanyaan:

  1. Tanggapilah secara lisan isi informasi   dengan runtut dan jelas!
  2. Buatlah simpulan  secara lisan isi informasi yang didengar!
  3. Berilah kritikan secara lisan terhadap informasi tersebut!
  4. Apakah amanat pengarang dalam wacana di atas!
  5. Coba Anda kemukakan solusi pemecahan masalah, berdasarkan artikel di atas!

APEK PENILAIAN DAN PENYEKORAN

No Aspek Yang Dinilai Skor
1. Ketepatan menjawab pertanyaan 0-20
2. Kemampuan mengungkapkan gagasan 0-20
3. Kemampuan menanggapi masalah 0-20
4. Kemampuan memecahkan masalah 0-20
5. Kemampuan berargumentasi secara logis sesuai fakta 0-20
Total Nilai 100

Lampiran 8

INSTRUMEN TES ASPEK KOGNITIF/PERFORMANCE

KETERAMPILAN BERBICARA

(JAWABAN TULISAN/LISAN)

SIKLUS II

Wacana

Korupsi Harus Dikeroyok

Pemberantasan korupsi tidak bisa lagi dilakukan secara parsial dan sendiri-sendiri. Pemberantasan korupsi harus dikeroyok bersama-sama oleh seluruh elemen antikorupsi.

Demikian saripati yang muncul dalam workshop anti korupsi bagi jaringan Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta. Dalam warkshop itu juga mengemukakan, kondisi korupsi di Indonesia sudah tidak bisa lagi dikendalikan, bahkan sudah mengarah ke tahap bunuh diri. Khusus untuk para hakim dan jaksa, perlu segera dilakukan rekam jejak bagi mereka karena dengan mengetahui rekam jejak mereka akan memudahkan bagi elemen antikorupsi untuk menjegal para hakim dan jaksa yang akan menjabat sebagai hakim agung, hakim konstitusi, anggota kamisi yudisial, maupun anggota komisi kejaksaan.

Pemberantasan korupsi di Indonesia kalau jauh dibandingkan dengan pemerantasan korupsi pada tahun 1936 yang ternyata jauh lebih progresif. Pada tahun 1936 dalam catatan sejarah Indonesia, seorang residen sudah berani memecat seorang bupati yang korup. Hal ini sungguh berbeda dengan kondisi sekarang di mana pejabat tertinggi tidak berani memecat bawahannya yang korup.

Bahkan, dalam catatan sejarah Indonesia, ada seorang bupati yang memecat 120 persen kepala desa di daerahnya. Teten Masduki mengatakan bahwa hal penting yang harus dilakukan elemen antikorupsi adalah segera melakukan rekam jejak atas karier jaksa dan polisi yang ada di Indonesia.

Disadur dari : Kompas, 9 Maret 2005.

Pertanyaan :

  1. Komentarilah  informasi yang terdapat dalam artikel di atas!
  2. Tanggapilah  perumusan pokok persoalan yang terdapat dalam artikel di atas!
  3. Berikan persetujuan/ dukungan dengan bukti pendukung informasi yang terdapat dalam artiekl di atas!
  4. Apakah amanat pengarang dalam wacana di atas!
  5. Coba Anda kemukakan solusi pemecahan masalah, berdasarkan artikel di atas!

APEK PENILAIAN DAN PENYEKORAN

No Aspek Yang Dinilai Skor
1. Ketepatan menjawab pertanyaan 0-20
2. Kemampuan mengungkapkan gagasan 0-20
3. Kemampuan menanggapi masalah 0-20
4. Kemampuan memecahkan masalah 0-20
5. Kemampuan berargumentasi secara logis sesuai fakta 0-20
Total Nilai 100

Lampiran 9

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP) 1

Mata Pelajaran                  : Bahasa Indonesia

Satuan Pendidikan                        : SMAN 3 Bengkalis

Kelas/Semester                  : X/II

Alokasi Waktu                  : 4 x 45 Menit

Tahun Pelajaran                 : 2007/2008

  1. Standar Kompetensi

Berbicara

10. Mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber

  1. Kompetensi Dasar

10.1 Memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak dan atau

elektronik

  1. Indikator
  • Mendata informasi dari sebuah artikel dengan mencantumkan sumbernya
  • Merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya, dsb.)
  • Memberikan  kritik  dengan disertai alasan

  1. Tujuan Pembelajaran
  • Siswa dapat mendata informasi dari sebuah artikel dengan mencantumkan sumbernya
  • Siswa mampu merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya, dsb.)
  • Siswa mampu memberikan  kritik  dengan disertai alasan

  1. Materi Pembelajaran
  • Artikel dalam media cetak atau internet yang menjadi bahan perdebatan umum (misalnya, kenaikan harga BBM atau berita terorisme)
  • Kata kunci (saya kurang sependapat…., saya  karena…, ) untuk menyampaikan kritik atau dukungan terhadap  suatu pendapat atau gagasan

  1. Metode Pembelajaran
  • CTL

  1. Langkah-Langkah Pembelajaran
No LangkahLangkah

Kegiatan

Guru Siswa
A Pendahuluan (lebih kurang 10 menit)

  1. Memotivasi siswa
  2. Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran
  3. Mengelompokkan Siswa
  1. Siswa Menerima Penjelasan guru
  2. Siswa berkelompok
B Inti (75 Menit)
1. Konstruktivisme Guru mempersiapkan persoalan yang muncul di permukaan umum Siswa mempersiapkan diri untuk menerima persoalan/masalah
2. Menemukan Meminta siswa mendengarkan atau membaca masalah yang muncul Siswa mendengarkan atau menerima persoalan atau masalah yang muncul. Dan  Mencatat hal-hal penting.
3. Bertanya -          Guru meminta siswa bertanya jika mengalami kendala menyelesaikan pekerjaan-          Mengajukan pertanyaan untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa -          Siswa mengajukan pertanyaan, jika ada yang tidak paham.-          Menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
4. Masyarakat Belajar Meminta siswa mendiskusikan informasi yang diperdengarkan melalui diskusi kelas, sekaligus membuat simpulan informasi Melakukan diskusi kelas, dan membuat simpulan informasi.
5. Pemodelan Membentuk personil diskusi-          Moderator

-          Notulen

-          Kelompok penyaji

Melakukan kerja sesuai dengan tugas yang diberikan
6. Refleksi Guru melakukan refleksi terhadap materi yang di diskusikan berupa:-          Pertanyaan langsung mengenai materi

-          Melihat pekerjaan siswa

-          Dan meminta kesan dan pesan siswa terhadap pembelajaran yang telah berlangsung.

-          Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.-          Siswa mengumpulkan pekerjaannya.

-          Memberikan kesan dan pesan kepada guru.

7. Penilaian yang Sebenarnya -          Guru mengajak siswa menilai pekerjaannya, dengan cara menukarkan pekerjaan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.- -          Melakukan penilaian terhadap pekerjaan temannya.-
C Penutup (5 menit)
-          Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.-          Guru mengadakan evaluasi

-          Guru memberikan penghargaan kepada siswa/kelompok yang lebih baik hasilnya.

-          Memberi PR

-          Menutup Kelas

-          Menyimpulkan materi-          Menerima PR

-          Mengerjakan PR di rumah.

  1. Alat dan Sumber Pembelajaran
  • Buku Terampil Berbahasa Indonesia
  • Wacana

  1. Penilaian

Jenis Tagihan:

  • Individu

Teknik Penilaian

  • Tertulis
  • Performans

Bentuk Instrumen:

  • Uraian
  • Praktik

Penilaian Kognitif

  • Catatlah pokok-pokok isi  informasi melalui rekaman atau teks yang dibacakan!
  • Tanggapilah secara lisan isi informasi   secara runtut dan jelas!
  • Buatlah simpulan  isi informasi yang didengar!
  • Berilah kritikan terhadap informasi tersebut!

Aspek Penilaian dan Penyekoran

No Aspek Yang Dinilai Skor
1. Ketepatan menjawab pertanyaan 0-20
2. Kemampuan mengungkapkan gagasan 0-20
3. Kemampuan menanggapi masalah 0-20
4. Kemampuan memecahkan masalah 0-20
5. Kemampuan berargumentasi secara logis sesuai fakta 0-20
Total Nilai 100

Lampiran 10

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP) 2

Mata Pelajaran                  : Bahasa Indonesia

Satuan Pendidikan                        : SMAN 3 Bengkalis

Kelas/Semester                  : X/II

Alokasi Waktu                  : 4 x 45 Menit

Tahun Pelajaran                 : 2007/2008

  1. Standar Kompetensi

Berbicara

10 Menungungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber

  1. Kompetensi Dasar

10.2 Memberikan persetujuan/ dukungan terhadap artikel yang terdapat

dalam media cetak dan atau elektronik

C. Indikator

  • Mendata informasi dari sebuah artikel dengan mencantumkan sumbernya
  • Merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya, dsb.)
  • Memberikan persetujuan/ dukungan dengan bukti pendukung (disertai dengan _las an)

D. Tujuan Pembelajaran

  • Siswa mampu mendata informasi dari sebuah artikel dengan mencantumkan sumbernya
  • Siswa mampu merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya, dsb.)
  • Siswa mampu memberikan persetujuan/ dukungan dengan bukti pendukung (disertai dengan _las an)

E. Materi Pembelajaran

  • Artikel dalam media cetak atau internet yang menjadi bahan perdebatan umum (misalnya, kenaikan harga BBM atau berita terorisme)
  • Kata kunci (saya sependapat… karena…, ) untuk menyampaikan dukungan terhadap  suatu pendapat atau gagasan

F. Metode Pembelajaran

  • CTL

G. Langkah-Langkah Pembelajaran

No LangkahLangkah

Kegiatan

Guru Siswa
A Pendahuluan (lebih kurang 10 menit)

  1. Memotivasi siswa
  2. Menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran
  3. Mengelompokkan Siswa
  1. Siswa Menerima Penjelasan guru
  2. Siswa berkelompok
B Inti (75 Menit)
1. Konstruktivisme Guru mempersiapkan persoalan yang muncul di permukaan umum Siswa mempersiapkan diri untuk menerima persoalan/masalah
2. Menemukan Meminta siswa mendengarkan atau membaca masalah yang muncul Siswa mendengarkan atau menerima persoalan atau masalah yang muncul. Dan  Mencatat hal-hal penting.
3. Bertanya -          Guru meminta siswa bertanya jika mengalami kendala menyelesaikan pekerjaan-          Mengajukan pertanyaan untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa -          Siswa mengajukan pertanyaan, jika ada yang tidak paham.-          Menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
4. Masyarakat Belajar Meminta siswa mendiskusikan informasi yang diperdengarkan melalui diskusi kelas, sekaligus membuat simpulan informasi Melakukan diskusi kelas, dan membuat simpulan informasi.
5. Pemodelan Membentuk personil diskusi-          Moderator

-          Notulen

-          Kelompok penyaji

Melakukan kerja sesuai dengan tugas yang diberikan
6. Refleksi Guru melakukan refleksi terhadap materi yang di diskusikan berupa:-          Pertanyaan langsung mengenai materi

-          Melihat pekerjaan siswa

-          Dan meminta kesan dan pesan siswa terhadap pembelajaran yang telah berlangsung.

-          Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.-          Siswa mengumpulkan pekerjaannya.

-          Memberikan kesan dan pesan kepada guru.

7. Penilaian yang Sebenarnya -          Guru mengajak siswa menilai pekerjaannya, dengan cara menukarkan pekerjaan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.- -          Melakukan penilaian terhadap pekerjaan temannya.-
C Penutup (5 menit)
-          Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.-          Guru mengadakan evaluasi

-          Guru memberikan penghargaan kepada siswa/kelompok yang lebih baik hasilnya.

-          Memberi PR

-          Menutup Kelas

-          Menyimpulkan materi-          Menerima PR

-          Mengerjakan PR di rumah.

H. Alat dan Sumber Pembelajaran

  • Terampilan Berbahasa Indonesia Kelas X
  • Wacana

I. Penilaian

Jenis Tagihan:

  • Individu

Teknik Penilaian

  • Tertulis
  • Performans

Bentuk Instrumen:

  • Uraian
  • Praktik

Penilaian Kognitif

  • Komentarilah  informasi yang terdapat dalam artikel hasil penelitian yang Anda baca!
  • Tanggapilah  perumusan pokok persoalan yang terdapat dalam artikel hasil penelitian!
  • Berikan persetujuan/ dukungan dengan bukti pendukung informasi yang terdapat dalam artiekl hasil penelitian!

Aspek Penilaian dan Penyekoran

No Aspek Yang Dinilai Skor
1. Ketepatan menjawab pertanyaan 0-20
2. Kemampuan mengungkapkan gagasan 0-20
3. Kemampuan menanggapi masalah 0-20
4. Kemampuan memecahkan masalah 0-20
5. Kemampuan berargumentasi secara logis sesuai fakta 0-20
Total Nilai 100

Lampiran 11

Lampiran 12

Lampiran 13

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA ASPEK KETERAMPILAN BERBICARA

DENGAN PENGGUNAAN MODEL PAKEM

SISWA KELAS  X SEMESTER II

SMA NEGERI

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Kenaikan Jabatan Guru

Dari Jabatan Guru Pembina Tingkat I (IV/B) Ke Guru Utama Muda (IV/C)

Di susun Oleh

Nama :

NIP :

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKALIS

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

SMA NEGERI

TAHUN 2009

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Aspek Keterampilan Berbicara Dengan Penggunaan Model PAKEM Siswa Kelas X Semester II SMAN N Tahun Pelajaran 2009/20010

Mengetahui,                                                            Bengkalis,  Mei 2010

Kepala SMAN                                                             Penulis

NIP                                                             NIP

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, syukurillah penulis panjat kehadirat Allah Maha Suci, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul : Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Aspek Keterampilan Berbicara Dengan Penggunaan Model PAKEM Siswa Kelas X.6 Semester II SMA Negeri 3 Bengkalis Tahun Pelajaran 2007/2008.

Tujuan penulis melakukan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Sebab  data analisis hasil semester ganjil,  keterampilan berbiacara atau ketuntasan belajar siswa sangat rendah. Sehubungan dengan itu penulis merasakan perlu mencari solusi pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut. Salah satu solusinya mencarikan strategi dan metode yang tepat dalam menyampaikan materi pembelajaran. Oleh sebab itu, penulis mencoba menggunakan atau menerapkan Model PAKEM atau pendekatan Contextual Teaching and Learning. Dan laporan penelitian ini digunakan untuk memenuhi persyaratakan kenaikan jabatan guru ke tingkat yang lebih tinggi (dari Pembina Tingkat I ke Pembina Utama Muda).

i

Penyelesaian Penelitian ini, penulis banyak memdapat masukan dari teman-teman, baik teman-teman guru di SMAN 3 Bengkalis maupun teman-teman guru yang mengajar di sekolah lain. Dan juga dari pimpinan penulis. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingganya kepada mereka yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Semoga bantuan yang penuh ikhlas dari teman-teman guru dan pimpinan mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin.

Penulis menyadari, bahwa karya tulis ini jauh dari kesempurnaannya, sebab masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan baik dari segi ketajaman pembahasannya maupun dari segi penulisannya. Sehubungan dengan itu penulis berharap kepada semua pihak, pembaca, dan yang lebih penting dari tim peniliai karya tulis pusat untuk memberikan masukan, kritikan guna penyempurnaan karya tulis ini.

Demikian sekedar pengantar dari penulis, semoga segala usaha kita mendapat ridho dari Allah SWT. Amin.

Hormat saya,

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ……………………………………………………

i
DAFTAR ISI……………………………………………………………. iii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………….. v
DAFTAR TABEL……………………………………………………….. vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ……………………………… 1
B. Rumusan Masalah ……………………………………. 5
C. Tujuan Penelitian ……………………………………… 6
D. Manfaat Penelitian ……………………………………. 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar …………..………………………………… 7

B.  Model PAKEM …………..……………………………….

8

C. Pembelajaran Aktif ………………………………………..

9

D. Pembelajaran Kreatif ……………………………………..

10

E. Pembelajaran Efektif ……………………………………..

10

F. Pembelajaran Menyenangkan ……………………………..

11

G. Pembelajaran Kontektual ………………………………..

12

H. Hubungan Hasil Belajar dengan Model PAKEM ……….

16

I. Keterampilan Berbicara ……………………………………………..

iii

17

BAB III METODELOGI PENELITIAN
A. Bentuk Penelitian ……………………………………….. 19
B. Objek  Penelitian ………………………………………… 19
C. Sujek Penelitian ……………………………………….. …………. 19
D. Prosedur Penelitian ………………………… …………………. 20
E. Instrumen Penelitian ..…………………………………… 22
F. Teknik Pengumpulan Data………………………………. 22
G. Teknik Analisis Data ……………………………………. 23
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Selintas Tentang Setting …………….……….. 24
B. Pelaksanaan Tindakan ……………………….. ….……………. 24
  1. Analisis Data Temuan Penelitian…………………………
25
D. Pembahasan ………………….…………………………… 30
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………. 33
B. Saran …………………………………………………… 33
Daftar Perpustakaan …………………………………………………Lampiran ……………………………………………………………… 3435

iv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran                                                                                                  Halaman
  1. Hasil Belajar Siklus I ………………………………………………………………….
  2. Hasil Belajar Siklus II………………………………………………………………….
  3. Lembar Observasi Pertemuan I Siklus I…………………………………………
  4. Lembar Observasi Pertemuan II Siklus II……………………………………….
  5. Lembar Observasi Pertemuan II Siklus I……………………………………….
  6. Lembar Observasi Pertemuan II Siklus II………………………………………
  7. Instrumen Tes Kognitif/Performans Siklus I …………………………………
  8. Instrumen Tes Kognitif/Performans Siklus II ……………………………….
  9. RPP Siklus I ……………………………………………………………………………..

10.  RPP Siklus II …………………………………………………………………………….

11.  Photo Kegiatan Siswa…………………………………………………………………

12.  Hasil Pekerjaan Siswa …………………………………………………………………

13.  Biodata Penulis …………………………………………………………………………

35

37

38

39

40

41

42

44

46

50

54

55

56

v

DAFTAR TABEL

Tabel                                                                                                        Halaman
  1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa ………………………………………
  2. Daya Serap Siswa ……………………………………………………..
28

29

vi
About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: