BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan dinamika sistem organisme dan lingkungannya baik yang hidup maupun yang tak hidup.Hal ini juga dapat di artikan sebagai suatu sistem didefinisikan sebagai kumpulan komponen-komponen yang saling berinteraksi.Dengan demikian sistem ekologi dapat muncul pada beberapa tingkat organisasi atau kompleksitas.Individu suatu organisme yang berinteraksi dengan lingkungan fisik,kimia dangai abiotik dapat di pandang sebagai sebuah sistem.Sebuah populasi(kumpulan organisme yang sama speciesnya yang dapat pada habitat tertentu) juga merupakan sistem ekologi karena adanya interaksi dengan populasi yang lain dan dengan lingkungan fisiknya.Sebuah komunitas atau sebuah sekumpulan species yang hidup bersama pada suatu lokasi tertentu pada suatu lingkungan tertentu disebut juga sistem ekologi atau lebih di kenal dengan ekosistem.
Tujuan studi ekologi adalah untuk memahami mekanisme yang mengatur struktur dan fungsi suatu ekosiste.Untuk lebih memahami mekanisme yang mengatur struktur dan fungsi suatu ekosistem.Untuk mengetahui suatu sistem ekologi pada suatu waktu tertentu,perlu di ketahui organisme apa saja yang hidup di tempat tertent,beberapa kepadatannya,dan bagaimana hubungannya dengan banyak faktor fisik dan kimia di lingkungan abiotik di sekelilingnya.Untuk memahami struktur suatu sistem memerlukan studi tentang proses yang terjadi di sepanjang waktu.
Seperti halnya ilmu pengetahuan alam yang lain,pada awal mulanya studi ekologi di mulai dari membuat study skripsi lapangan.Titik berat study ini adalah menandai dan memberi nama kelompok species alam,membuat klasifikasi faktor lingkungan yang mengentrol distribusi dan kepadatan organisme.Secara bertahap studi ekologi mencakup hubungan antara organisme dengan lingkungannya pada semua tingkatan organisasi dari individu dengan lingkungan mikronya sampai pada ekosistem.
Tujuan Praktek
Adapun tujuan dari praktek lapangan terpadu ini adalah untuk menganalisa vegetasi, yaitu vegetasi hutan tingkat pohon dan permudaan alam di kawasan hutan di bukit loncet desa Anjungan.
B. Manfaat Praktek
Dari hasil praktikum lapangan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang vegetasi hutan tingkat pohon dan permudaan alam di kawasan hutan di bukit loncet desa Anjungan, yang nantinya diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan tersebut.
C. Tinjauan Pustaka
- 1. Analisa Vegetasi
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari struktur atau penyebaran dan komposisi atau susunan jenis vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan dan satuan yang akan diselidiki tegakan hutan yang merupakan asosiasi yang kongkrit (Soerianegara 1988). Selanjutnya Warasito (1986) dalam Kurnilawati (1999) mengatakan bahwa informasi mengenai komposisi jenis dan bentuk vegetasi ini diperlukan untuk mengambil keputusan dalam melakukan kegiatan-kegiatan berikutnya dengan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang baru saja dilalui. Oleh karena itu suatu tindakan analisa vegetasi perlu diulangi pada waktu-waktu tertentu dan juga dilakukan sewaktu-waktu diperlukan.
Analisa vegetasi dilaksanakan dalam penelitian ekologi untuk memperoleh informasi-informasi yang meliputi :
- keadaan hutan itu sendiri seperti luas areal, jenis dan komposisi, keliling/diameter pohon, keadaan pertumbuhan dan keadaan tumbuhan bawah.
- Keadaan lapangan dan tanah dimana hutan itu tumbuh seperi topografi, jenis dan sifat tanah serta geologi.
- Keterangan-keterangan lain mengenai keadaan transfortasi, sosial ekonomi masyarakat disekitar hutan, iklim dan lain-lain.
Informasi yang telah diperoleh tersebut dijadikan pertimbangan untuk membuat kebijaksanaan, melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan sumber daya alam dalam rangka pemanfaatan secara optimum dan lestari (Warsito, 1986).
Untuk keperluan analisa vegetasi perlu dibedakan tingkatan pertumbuhan tanaman menurut Kusmana (1995) adalah sebagai berikut :
- Tingkat semai (seedling) yaitu tumbuhan dari mulai kecambah sampai tinggi 1,5 meter.
- Tingkat pancang (sapling) yaitu permudaan yang tingginya lebih dari 1,5 meter, dengan diameter tumbuhan kurang dari 10 cm.
- Tingkat tiang (pole) yaitu pohon muda yang memiliki diameter pohon 10 – 20 cm.
- Pohon dewasa (tree) yaitu pohon yang memiliki diameter lebih dari 20 cm.
- 2. Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis adalah ukuran yang menyatakan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari masing-masing jenis. Didaerah tropika basah memiliki keanekaragaman jenis-jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan yang tinggi, karena pada daerah ini memiliki iklim dan kondisi geografis khusus yaitu adanya musim kemarau dan musim penghujan, namun jumlah individu tiap jenisnya rendah (Haryanto 1983).
Jumlah jenis disuatu daerah ditentukan oleh kecepatan kepunahan jenis dan kecepatan imigrasi atau masuknya jenis kedalam daerah tersebut. Pengamatan kita menunjukkan jumlah poho jenis tertentu per hektar tidaklah banyak. Karena itu dalam hutan yang besar jumlah jenisnya, terdapat rata-rata jumlah individu yang rendah pada masing-masing jenis, (Soemarwoto 1997)
Menurut Michael (1996) komunitas yang mengalami situasi lingkungan yang keras cenderung terdiri atas sejumlah kecil jenis yang berlimpah. Dalam lingkungan yang lunak, jumlah jenis besar, namun tidak satupun yang berlimpah. Keragaman jenis dapat diambil untuk menandai jumlah jenis dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah jenis yang ada. Jumlah jenis dalam suatu komunitas sangat penting dari segi ekologi karena keragaman jenis tampaknya bertambah bila komunitas menjadi semakin stabil. Gangguan yang parah menyebabkan penurunan yang nyata dalam keragaman. Keragaman yang besar juga mencirikan ketersediaan sejumlah besar ceruk.
Alikodra (1990) mengemukakan bahwa keanekaragaman jenis dapat ditemukan pada keanekaragaman hayati, yaitu merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan persekutuan makhluk yaitu tingkatan ekosistem, tingkatan jenis dan tingkatan genetika.
Keanekaragaman sumber daya hayati Indonesia termasuk dalam golongan tertinggi di dunia, jauh lebih tinggi dari pada Amerika dan Afrika tropis, apalagi bila dibandingkan dengan daerah beriklim sedang dan dingin. Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia secara keseluruhan ditaksir 25.000 jenis, dan 40 % dari jenis-jenis tersebut merupakan jenis endamik atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia dan tidak dijumpai didaerah lain didunia (Resosoedarmo 1989).
BAB II
CARA KERJA PRAKTEK LAPANGAN
A. Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum ini dilakukan pada kawasan hutan alam Bukit Loncet Anjungan pada tanggal 2 Mei 2008. Status hutan ini merupakan hutan adat masyarakat setempat yang selalu terjaga kelestariannya sehingga kondisinya masih merupakan hutan sekunder.
Hutan yang masih sekunder merupakan lokasi yang sangat cocok untuk kegiatan pengamatan atau praktikum dimana struktur dan komposisi tegakannya masih kompleks sehingga memungkinkan pelaksanaan praktikum bisa mencapai target yang diinginkan. Hal ini juga sangat menentukan dan membantu dalam pemahaman tentang masyarakat hutan yang sebenarnya.
B. Alat dan Objek
1. Alat
Di setiap rangkaian kegiatan praktikum tentunya memerlukan seperangkat peralatan guna memperlancar proses kegiatan dan yang terpenting adalah keakuratan data yang yang diperoleh dari hasil praktikum. Adapun alat-alat yang digunakan sebagai berikut :
- Kompas
- Tongkat ukur
- Phiband untuk mengukur diameter
- Meteran untuk mengukur tinggi semaian
- Alat tulis
- Tali plastic
- Tali rapia : – Ukuran 200 m
- Ukuran 20 m
- Ukuran 10 m
- Ukuran 5 m
- Ukuran 2 m
- Parang
- Tongkat/ ajir
- Thally sheet
2. Objek Praktek
Pelaksanaan praktikum ini merupakan pengamatan terhadap potensi hutan dan sebaran jenis vegetasi yang ada pada masyarakat hutan maka yang diamati dalam praktikum ini adalah hutan atau vegetasi hutan tingkat pohon (tree).
C. Metode Praktek
Analisa vegetasi disini adalah cara mempelajari susunan (komposisi) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam analisis vegetasi ada 4 metode yang secara umum biasa digunakan yaitu :
- Metode petak tunggal
- Metode petak ganda
- Metode jalur/transek
- metode tanpa petak atau cara kuadran.
Dalam praktikum dilapangan kami menggunakan salah satu dari keempat cara diatas yaitu dengan metode jalur/transek. Dimana cara/metode ini merupakan cara/metode yang dianggap mudah penggunaannya dilapangan dalam menganalisa vegetasi dan metode ini sangat populer digunakan di Indonesia meskipun nilai biasnya paling besar jika dibandingkan dengan metode-metode yang lain.
D. Tahapan Pelaksanaan Praktek
a. Pembuatan jalur
Panjang jalur yang direncanakan ialah 200 meter dengan lebar 20 meter. Pembuatan jalur menggunakan alat bantu berupa kompas. Untuk garis tengah jalur kompas dibidik lurus kedepan dan ditarik dengan tali rapiah sampai 200 meter dan jalur ditempatkan pada azimuth 30o (derajat). Untuk penentuan sudut kesamping kanan ditambah 90º dari bebas derajat tengah jalur, sedangkan sudut samping kiri dikurangi 90º dari bebas derajat tengah jalur. Pada metode jalur pada setiap petak masing-masing besarnya ialah 20 x 20 meter, kemudian titik-titik pengukuran tersebut dihubungkan dengan tali sehingga membentuk seperti bangun bujur sangkar.
b. Pembagian petak
Setelah jalur terbentuk, kemudian dibagi menjadi 10 petak sama besar dengan luas petak masing-masing 20 x 20 meter. Tiap petak 20 x 20 meter di bagi menjadi beberapa petak lagi yaitu :
- 2 x 2 meter sebanyak 10 petak pada petak pengamatan pertama untuk pengamatan tingkat semai (tinggi ± 1,5 meter)
- 5 x 5 meter sebanyak 4 petak pada petak pengamatan pertama untuk pengmatan tingkat pancang (Ø < 10 cm, tinggi > 1,5 meter)
- 10 x 10 meter sebanyak 2 petak pada petak pengamatan pertama untuk pengamatan tingkat tiang (Ø 10 cm – 35 cm)
- 20 x 20 meter untuk pengamatan tingakat pohon (Ø 35 cm up)
Petak-petak tersebut diukur dari titik 0 meter , tiap petak yang dibuat sejajar dengan jalur yang telah ditentukan. Garis petak dibuat dengan menggunakan tali rapia.
A B C D
Contoh pembuatan petak pada metode jalur/transek
Keterangan :
A = Pengamatan tingkat semai 2 x 2 meter
B = Pengamatan tingkat pancang 5 x 5 meter
C = Pengamatan tingkat tiang 10 x 10 meter
D = Pengamatan tingkat pohon 20 x 20 meter
E. Analisa Data
Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mengetahui kerapatan jenis, kerapatan relatif, dominansi jenis, dominansi relatif, frekuensi jenis dan frekuensi relatif serta Indeks Nilai Penting menggunakan rumus Mueller-Dombois dan Ellenberg (1974) sebagai berikut :
- Kerapatan
Kerapatan =
- Kerapatan Relatif
Kerapatan relatif =
- Frekuensi
Frekuensi =
- Frekuensi Relatif
Frekuensi relatif =
- Dominansi
Dominansi =
- Dominansi Relatif
Dominansi relatif =
- Indeks Nilai Penting
Indeks Nilai Penting = Kerapatan relatif +Frekuensi relatif + Dominansi relatif
BAB III
HASIL PRAKTEK LAPANGAN
A. Tabel Data
- Tingkat Semai
| No | Jenis | Jumlah | Jumlah Petak |
|
|
Kelampai | 17 | 5 |
|
|
Medang | 3 | 1 |
|
|
Porang | 13 | 5 |
|
|
Enau | 2 | 1 |
|
|
Bintangur | 4 | 1 |
|
|
Rampai | 26 | 1 |
|
|
Sibo | 6 | 2 |
|
|
Engkaras | 3 | 1 |
|
|
Terap | 1 | 1 |
| Jumlah | 74 | ||
- Tingkat Pancang
| No | Jenis | Jumlah | Jumlah Petak |
|
|
Kelampai | 12 | 7 |
|
|
Porang | 10 | 4 |
|
|
Medang | 1 | 1 |
|
|
Rawai | 1 | 1 |
|
|
Ara/beringin | 3 | 3 |
|
|
Sibo | 1 | 1 |
|
|
Meranti | 1 | 1 |
|
|
Serawai | 2 | 2 |
|
|
Terap | 2 | 2 |
|
|
Engkaras | 3 | 1 |
|
|
Ubah | 2 | 1 |
|
|
Asam | 1 | 1 |
|
|
Petai hutan | 1 | 1 |
| Jumlah | 40 | ||
- Tingkat Tiang
| No | Jenis | Jumlah | Jumlah Petak | LBDS |
|
|
Kelampai | 2 | 2 | 300.029 |
|
|
Porang | 2 | 2 | 373.063 |
|
|
Ara | 1 | 1 | 237,667 |
|
|
Sibo | 1 | 1 | 393.881 |
|
|
Gaharu | 1 | 1 | 673.915 |
|
|
Rawai | 1 | 1 | 124.626 |
| Jumlah | 8 | 2103.181 | ||
- Tingkat Pohon
| No | Jenis | Jumlah | Jumlah Petak | LBDS |
|
|
Kelampai | 16 | 8 | 2047.314 |
|
|
Porang | 2 | 1 | 402.723 |
|
|
Medang | 5 | 5 | 2093.351 |
|
|
Ara | 4 | 4 | 457.830 |
|
|
Bintangor | 1 | 1 | 5278.340 |
|
|
Terap | 4 | 3 | 826.607 |
|
|
Sibau | 1 | 1 | 1351.966 |
|
|
Ubah | 3 | 2 | 642.1 |
|
|
melaban | 1 | 1 | 1206.262 |
| Jumlah | 37 | 14306.493 | ||
B. Hasil Perhitungan
- Tingkat Semai
Luas Petak = 10 (2m x 2m) : 10000 = 0,004 Ha
| No | Jenis | K | KR | F | FR | INP |
|
|
Kelampai | 0.085 | 22.667 | 0.5 | 27.778 | 50.445 |
|
|
Medang | 0.015 | 4.00 | 0.1 | 5.556 | 9.556 |
|
|
Porang | 0.065 | 173.333 | 0.5 | 27.778 | 201.111 |
|
|
Enau | 0.01 | 2.667 | 0.1 | 5.556 | 8.223 |
|
|
Bintangur | 0.02 | 5.333 | 0.1 | 5.556 | 10.889 |
|
|
Rampai | 0.13 | 34.667 | 0.1 | 5.556 | 40.223 |
|
|
Sibo | 0.03 | 8.00 | 0.2 | 11.111 | 19.111 |
|
|
Engkaras | 0.015 | 4.00 | 0.1 | 5.556 | 9.556 |
|
|
Terap | 0.005 | 1.333 | 0.1 | 5.556 | 6.889 |
| Jumlah | 0.375 | 256 | 1.8 | 100.003 | 356.003 | |
- Tingkat Pancang
Luas Petak = 10 (5m x 5m) : 10000 = 0,025 Ha
| No | Jenis | K | KR | F | FR | INP |
|
|
Kelampai | 0.06 | 30 | 0.7 | 26.923 | 56.923 |
|
|
Porang | 0.05 | 25 | 0.4 | 15.385 | 40.385 |
|
|
Medang | 0.005 | 2.5 | 0.1 | 3.846 | 6.346 |
|
|
Rawai | 0.005 | 2.5 | 0.1 | 3.846 | 6.346 |
|
|
Ara/beringin | 0.015 | 7.5 | 0.3 | 11.538 | 19.038 |
|
|
Sibo | 0.005 | 2.5 | 0.1 | 3.846 | 6.346 |
|
|
Meranti | 0.005 | 2.5 | 0.1 | 3.846 | 6.346 |
|
|
Serawai | 0.01 | 5 | 0.2 | 7.692 | 12.692 |
|
|
Terap | 0.01 | 5 | 0.2 | 7.692 | 12.692 |
| 10. | Engkaras | 0.015 | 7.5 | 0.1 | 3.846 | 11.346 |
| 11. | Ubah | 0.01 | 5 | 0.1 | 3.846 | 12.692 |
| 12. | Asam | 0.005 | 2.5 | 0.1 | 3.846 | 6.346 |
| 13. | Petai hutan | 0.005 | 2.5 | 0.1 | 3.846 | 6.346 |
| Jumlah | 0.2 | 100 | 2.6 | 99.998 | 203.844 | |
- Tingkat Tiang
Luas Petak = 10 (10m x 10m) : 10000 = 0,1 Ha
| No | Jenis | K | KR | F | FR | D | DR | INP |
|
|
Kelampai | 0.01 | 25 | 0.2 | 25 | 0.2 | 25 | 75 |
|
|
Porang | 0.01 | 25 | 0.2 | 25 | 0.2 | 25 | 75 |
|
|
Ara | 0.005 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 37.5 |
|
|
Sibo | 0.005 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 37.5 |
|
|
Gaharu | 0.005 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 37.5 |
|
|
Rawai | 0.005 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 0.1 | 12.5 | 37.5 |
| Jumlah | 0.04 | 100 | 0.8 | 100 | 0.8 | 100 | 300 | |
- Tingkat Pohon
Luas Petak = 10 (20m x 20m) : 10000 = 0,4 Ha
| No | Jenis | K | KR | F | FR | D | DR | INP |
|
|
Kelampai | 0.08 | 43.24 | 0.8 | 30.77 | 0.8 | 30.77 | 104.78 |
|
|
Porang | 0.01 | 5.4 | 0.1 | 3.84 | 0.1 | 3.84 | 13.08 |
|
|
Medang | 0.025 | 13.51 | 0.5 | 19.23 | 0.5 | 19.23 | 51.97 |
|
|
Ara | 0.02 | 10.81 | 0.4 | 15.38 | 0.4 | 15.38 | 41.57 |
|
|
Bintangor | 0.005 | 2.7 | 0.1 | 3.84 | 0.1 | 3.84 | 10.38 |
|
|
Terap | 0.02 | 10.81 | 0.3 | 11.53 | 0.3 | 11.53 | 33.87 |
|
|
Sibau | 0.005 | 2.7 | 0.1 | 3.84 | 0.1 | 3.84 | 10.38 |
|
|
Ubah | 0.015 | 8.11 | 0.2 | 7.69 | 0.2 | 7.69 | 23.49 |
|
|
melaban | 0.005 | 2.7 | 0.1 | 3.84 | 0.1 | 3.84 | 10.38 |
| Jumlah | 0.185 | 98.98 | 2.6 | 99.96 | 2.6 | 99.96 | 299.9 | |
C. Pembahasan Data
- Dari data di atas,diketahui INP tingkat semai yang paling besar adalah pohon jenis porang (201.111), dengan Kerapatan Relatif 22.667 dan Frekuensi Relatif 27.778.
- Dari data di atas,diketahui INP tingkat semai yang paling kecil adalah pohon terap (INP= 6.889, KR= 1.333, FR= 5.556), enau (INP= 8.223, KR= 2.667, FR= 5.556), engkaras (INP=9.556 , KR= 4.00, FR= 5.556), medang INP= 9.556, KR=4.00, FR= 5.556)
- Dari data yang di peroleh dapat dilihat bahwa INP untuk tingkat pancang yang paling tinggi adalah jenis kelampai (56.923), dengan KR=30 , FR= 26.923
- Dari data yang di peroleh dapat dilihat bahwa INP untuk tingkat pancang yang paling kecil adalah jenis medang (INP=6.346 , KR=2,5 , FR=3.846 ) rawai(INP=6.346 , KR=2,5 , FR=3.846 ), sibo (INP=6.346 , KR=2,5 , FR=3.846 ), meranti (INP=6.346 , KR=2,5 , FR= 3.846), asam (INP=6.346 , KR=2,5 , FR= 3.846) dan petai hutan (INP=6.346 , KR=2,5 , FR= 3.846).
- Dari data yang di peroleh dapat dilihat bahwa INP untuk tingkat tiang yang paling tinggi adalah jenis kelampai (INP=75 , KR=25 , FR=25 , DR= 25), porang (INP=75 , KR=25 , FR=25 , DR= 25).
- Dari data yang di peroleh dapat dilihat bahwa INP untuk tingkat tiang yang paling kecil adalah jenis ara (INP=37.5 , KR=12,5 , FR=12,5 , DR= 12,5), sibo (INP=37.5 , KR=12,5 , FR=12,5 , DR= 12.5), gaharu (INP=37.5 , KR=12,5 , FR=12,5 , DR= 12,5), rawai (INP=37.5 , KR=12,5 , FR=12,5 , DR= 12,5).
- Dari data yang di peroleh dapat dilihat bahwa INP untuk tingkat pohon yang paling tinggi adalah jenis kelampai (INP=104.78 , KR=43.24 , FR=30.77 , DR=30.77 )
- Dari data yang di peroleh dapat dilihat bahwa INP untuk tingkat pohon yang paling kecil adalah jenis bintangor (INP=10.38 , KR=2.7 , FR=3.84 , DR=3.84 ), sibau (INP=10.38 , KR=2.7 , FR=3.84 , DR=3.84 ), melaban (INP=10.38 , KR=2.7 , FR=3.84 , DR=3.84 ).
BAB IV
PENUTUP
- A. Kesimpulan
Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa Indeks Nilai Penting yang tertinggi untuk semai = 201.111 pada pohon porang, untuk tingkat pancang = 56.923 pada pohon kelampai, untuk tingkat tiang adalah = 75 pada pohon kelampai dan porang, dan untuk tingkat pohon adalah = 104.78 pada pohon kelampai.
Jenis tanaman yang lebih dominan yang ada pada hutan tersebut adalah jenis kelampai.
- B. Saran
- Diharapkan sebelum melakukan praktikum mahasiswa dan dosen melakukan diskusi yang berkenaan dengan praktikum tersebut.
- Sebaiknya kegiatan prraktikum terpadu dilakukan lebih lama agar
dapat di bahas di lokasi.
- Untuk kedepan agar mata kuliah praktikum yang akan di lakukan harus sudah di berikan terlebih dahulu kepada mahasiswa/i.
DAFTAR PUSTAKA
Lili Priantina, 2001, Studi Jenis-Jenis Penyusun Tegakan Alam Hutan Dataran Rendah Pada Areal Hutan Gunung Ambawang. Skripsi Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak.Tidak dipublikasikan.
Muhammad Amril Jihadi, 2000, Studi Jenis-jenis Permudaan Alam diareal Bekas Tempat Pengumpulan Kayu (tpn) pada Berbagai Tingkat Uumur di hph PT. Barito Pacipic Timber (unit i) Kecamatan Ambalau Kabupaten Sintang. Skripsi Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak.Tidak dipublikasikan.
Rahayu, S, 1991, Analisa Permudaan Hutan Alam Menurut Ukuran Rumpang Pada Areal Bekas Tebangan. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak.Tidak dipublikasikan.
Soemarwoto, Otto, 1997, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan Edisi Revisi, Penerbit Djambatan, Jakarta.
Soerianegara, I dan A, Indrawan, 1978, Ekologi Hutan Indonesia, Lembaga Kerjasama Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
