Pemanfaatan Lahan Gambut

15 04 2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Lahan gambut adalah lahan basah yang memegang peranan penting sebagai benda ekstraktif dan non-ekstraktif. Sebagai bahan ekstraktif, gambut bisa dimanfaatkan sebagai bahan energi semisal dijadikan briket, atau diambil asam humatnya, dijadikan media semai atau media untuk reklamasi lahan kering.

Sedangkan sebagai bahan non-ekstraktif, gambut berfungsi sebagai penyokong biodiversitas, sebagai hutan, perkebunan, dan pertanian.Namun fungsi yang paling mengemuka adalah kemampuannya menyimpan air, gambut bisa menyimpan 90 persen volume air hingga ekosistem ini diharapkan bisa menyangga hidrologi kawasan sekitar agar tidak kebanjiran dan supaya tidak tergerus intrusi air laut.

Bila musim kemarau datang, gambut memberikan pasokan airnya ke daerah sekitarnya dan kawasan itu tidak rawan api karena masih tergenang air yang cukup.

Taksonomi tanah (Soil survey Staff, 1975) dalam Halim dan Bustoni (1997 : 2) mendefinisikan gambut sebagai tanah yang mengandung bahan organik >20% (bila tanah tidak mengandung liat) atau lebuh dari 30% (bila tanah mengandung liat > 60%) dan tebalnya secara kumulatif >40 cm. Bila ketebalan gambut kurang dari 40 cm dikategorikan sebagai tanah bergambut.

Menurut Maltby (1992) dalam Rifani (1996 : 4) gambut adalah akumulasi bahan organik yang merupakan hasil perombakan yang tidak sempurna dari sisia jaringan tanaman yang mati pada suatu kondisi air yang melimpah dalam keadaan anaerob.

Tanah gambut terbentuk hampir di seluruh Negara di dunia. Luasnya diperkirakan sekitar 394 juta ha, diantaranya sekitar 31 juta hektar atau 7,85% terdapat di daerah tropika, yaitu Asia Tenggara, Amazone Carribean, USA dan Afrika. Di Asia Tenggara tanah gambut sebagian besar terdapat di Indonesia dan Malaysia.Menurut (Buckman dan Brady, 1982 : 436) dalam Yuniar (1999 :8) gambut terbentukdari pelapukan bahan organic yang sebagian besar disebabkan oleh agensia cendawan, bakteri anaerob, ganggang dan tipe tertentu hewan mikrokopik dengan merombak jaringan organic, membebaskan gas dan menunjang sisa humus. Jika dekomposisi telah lanjut bahan organic ini mendapat cirri-ciri profil sedemikian rupa sehingga menguatkan penunjukannya sebagai suatu bahan organic yang sebenarnya.

Gambut adalah onggokan bahan organik yang tersusun dari bahan kayuan atau lumut yang terjadi akibat kecepatan penimbunan  lebih tinggi dibandingkan dengan penguraiannya. Sebagai hasil dekomposisi anaerobik, tanah gambut mengandung  asam-asam   organik, baik yang humanik maupun yang non-humanik. Asam-asam organik tersebut merupakan komponen koloid yang utama dan penting dalam gambut. Dilain pihak tanah-tanah mineral memiliki kandungan bahan organik yang rendah.

Di Indonesia, kecepatan penimbunan di perkirakan  berkisar antara 8-40 cm per 100 tahun. Perbedaan kecepatan ini disebabkan oleh suhu dingin (di daerah non-tropis) dan curah hujan yang tinggi (di daerah tropis). Proses pembentukan gambut berlangsung selama ribuan tahun. Gambut kalimantan, contohnya, terbentuk sekitar 800 hingga 5000 tahun yang lalu.

Ketebalan gambut sangat bervariasi antara 0,5 meter hingga 20 meter, kawasan gambut di Kalimantan dan Sumatra yang kedalamannya sampai 20 meter bisa 200.000 km persegi, dan diprkirakan simpanan karbonnya mencapai50 miliar ton. Indonesia merupakan negara yang mempunyai cadangan gambut terbesar keempat didunia, cadangan gambut tersebut setara dengan 286 BBOE (billion barrels oil equivalent) yang merupakan 55,94 % dari total sumber daya energi fosil di Indonesia (Suhala, 1996). Saat ini keberadaan lahan gambut di Indonesia semakin dirasakan peran pentingnya, terutama dalam hal kemampuan menyimpan karbon dioksida (CO2), salah satu jenis gas rumah kaca, dan siklus hidrologi serta memelihara keanekaragaman hayati.

Lahan gambut, walaupun hanya sekitar  3 % dari total luas daratan Bumi, akan tetapi sanggup menyimpan 30 % karbon dunia. Luas lahan gambut di seluruh dunia berkisar 38 juta hektar dengan lebih dari separuhnya berada di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia diperkirakan seluas 26 juta hektar ( Driessen dan Supraptohardjo, 1994), dan hampir semuannya ada di luar pulau jawa, yakni pulau Sumatra 8,9 juta hektar, pulau Kalimantan 6,3 juta hektar, dan yang terbesar ada di pulau Irian yakni 10,9 juta hektar.

Kawasan gambut, yang mempunyai fungsi perlindungan antar lain perlindungan morfologi setempat

  1. Perlindunagan pada fungsi hidrologi wilayah atau tata air, yaitu sebagai kawasan resapan, penyimpan air dan pencegahan banjir.
  2. Perlindungan pada ekosistem yang khas di kawasan bergambut.
  3. Perlindungan pada pemanfaatan gambut.

Menurut (Purwowidodo, 1991 :123) dalam Yuniar (1999 : 15) gambut di Indonesia diperkirakan mulai terbentuk sekitar 5000 tahun silam dan sebagian menempati daerah cekungan sangat luas yang terletak diantara sungai besar dan tepi pantai. Banyaknya longgokan gambut ini disebabkan karena paduan keadaan topografi yang sesuai, curah hujan yang melebihi penguapannya dan sedikitnya kandungan debu di sungai.

Soerianegara (1978 : 43) mengemukakan bahwa hutan rawa gambut adalah semacam hutan rawa, tetapi tumbuh diatas lapisan gambut yang tebalnya 1-20 m dan digenangi air gambut yang berasal dari huja dan tanah organosol.

Gambut Omrogen merupakan gambut yang banyak dijimpai di Indonesia. Permukaan lahan gambut Ombrogen lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan air disekelilingnya, sehingga tumbuhan yang dapat hidup diatasnya mendapat pasokan hara dari air hujan, uraian bahan gambut dan uraian tubuh tumbuhan sendiri. Menurut Poerwidodo, 1991 : 124) dalam Yuniar,tipe gambut ombrogen umumnya ditemui di tepi pantai dengan ketebalan dapat mencapai 20 meter, air atusannya asam dan miskin hara khususnya K, Ca dan P. Gambut topogen relative kaya unsure hara karena adanya sirkulasi hara mineral dari bagian bawahnya oleh kegiatan akar-akar tanaman maupun pengaruh pasang surut air sungai disekitarnya (Bapeda Tingkat I Riau, 1993 : 35)

Komposisi khas hutan gambut di Kalimantan terdiri dari asosiasi kayu ramin (Gonystylus spp). Tinggi pohon di lahan gambut ini dapat mencapai 30 m terutama di tepi lahan. Hal ini dapat dikaitkan dengan genesa gambut tersebut. Semakin ke tengah dirajai oleh pohon yang semakin pendek, seperti : tristania obovata dan Ploiarium alternifolium. Ketidakmampuan pohon-pohon tumbuh optimal di bagian tengah lahan gambut dikarenakan keadaannya sangat ekstrim,khususnya gatra PH dan ketersediaan hara bagi tanaman.

Menurut Poerwidodo (1991 : 124) dalam Yuniar, jenis tumnuhan hutan gambut yang telah banyak dimanfaatkansecara intensif adalah Ramin  (Gonystylus spp), Damar (Agathis Borneensisi), Meranti (Shorea sp), dan rotan (Callamus sp). Jenis tumbuhan ini merajai kawasan tepi lahan gambut.

Pembentukan terjadinya gambut di daerah tropika seperti di Indonesia berbeda dengan terjadinya gambut didaerah yang beriklim sedang dan dingin. Penyebab utama terjadinya gambut di daerah iklim sedang dan dingin adalah suhu yang dingin dan kondisi yang jenuh air sehingga proses okdsidasi berjalan sangat lambat. Sedangkan penyebab utama terjadinya gambut di daerah troika adalah kelebihan air dan kekurangan oksigen serta PH yang endah (Tim riset Gambut,1994). Peran gambut sebagai daerah resapan air memang tidak dapat diragukan baik ditinjau dari lokasi pembentukannya ada status fisiografi rendah maupun dari sifat fisiknya. Gambut ombrogen yang merupakan cembungan (dome) dan terbentuk pada awalnya dari cekungan oligotrofik sangat besar

pengaruhnya sebagai daerah resapan dan cadangan air. Fungsi hidrologis yang besar dari gambut tersebut merupakan salah satu pertimbangan konservasi terpenting dalam upaya pemanfaatannya. Lokasi lahan gambut didaerah perhuluan akan sangat berpengaruh pada konservasi hidrologi daerah aliran di hilirnya, sedangkan lokasinya dekat daerah estuari akan sangat dierlukan dalam menjaga intrusi air laut dan menyerap kelebihan/limpasan air kiriman dari hulu atau air pasang. Sifat gambut oligotrofik yang masih mentah dengan berat jenis yang sangat rendah, termasuk lapisan yang lebih dalam pada gambut otrofik, mempunyai kemampuan manahanair (water holding capacity) sangat besar bahkan sampai sepuluh kali lipat dari berat keringnya, tergantung pada bahan penyusun gambutnya. Sifat hidrologis bahan organik initidak dapat digantikan oleh jenis-jenis tanah lainnya, oleh karena itu fungsi konservasinya sangat besar.

Selama vegetasi hutan yang ada tetap memberikan inut serasah ke lantai hutan pada kondisi jenuh, maka lapisan gambut akan tetap terbentuk karena proses dekomposisi (humufikasi dan mineralisasi) bahan organis tidak dapat mengimbanginya. Sekali vegetasi (hutan) pada lahan gambut terbuka atau ditebang habis, maka pada saatnya lapisan gambut akan musanah. Biasanya lapisan liat mineral (aluvial) atau bahkan pasir kwarsa akan menggantikan lahan gambut setelah 20-40 tahun tergantung pada intensitas pengolahan dan ketebalan gambut aslinya. Proses subsiden lanjut seperti ini perlu diantisipasi karena dataranaluvial tersebut akan mudah tergenang dan rawan banjir.

Pemanfaatan lahan gambut di negara-negara maju telah berkembang baik untuk keperluan budi daya pertanian/kehutanan maupun energi dan lainnya. Pemanfaatan gambut untuk energi di Finlandia Swedia dan Kanada dapat diperkirakan terjadi pada gambut yang ketebalannya besar yaitu tipe gambut ombrogen. Hal ini dimungkinkan karena disamping kedalaman/potensi yang besar juga variasi kematangan serta kandungan karbon dan hidrogen yang dapat menghasilkan kalori ebih besar. Di Indonesia perhitungan ekonomi produk energi dari bahan gambut tersebut masih belum menjanjikan dasam[ing pertimbangan biaya lingkungan yang ahrus dikeluarkan.

  1. Tujuan Praktikum
  2. Adapun tujuan praktikum ini adalah :
  • Mengetahui tingkat kesuburan tanah gambut yang terdapat di Kalimantan Barat
  • Mengetahui factor-faktor yang dapat meningkatkan kesuburan tanah gambut

BAB II

METODE PRAKTIKUM

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :

  • Plastic Polybag
  • Cangkul untuk mengambil tanah
  • Palstrik hitam

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :

  • Tanah gambut
  • Bibit tanaman buncis, kacang panjang manis, kacang hijau dan kacanh merah
  • Air untuk menyiram

  1. Metode Praktikum

  1. Diambil tanah gambut sebanyak 1 kantong plastik hitam, (secukupnya untuk delapan polybag kecil).
  2. Kemudian tanah gambut tersebut dibagi menjadi 2, yang pertama dijemur selama setengah hari dan yang lainnya dibiarkan tanpa perlakuan pengeringan.
  3. Setelah itu tanah dimasukkan kedalam polybag, masing-masing 4 polybag.
  4. Setelah itu ditanam 4 jenis tanaman (buncis, kacang panjang, kacang hijau dan kacang merah) pada masing-masing polybag dengan 3 kali ulangan.
  5. Kemudian dilakukan pengamatan selama1 mingu terhadap pertumbuhan tanaman tersebut.
  6. Penyiraman dilakukan setiap 1 hari sekali dengan metode penyemprotan.
  7. Setipa hari diperhatikan dan dicatat pertumbuhan tinggi tanaman tersebut.
  8. Pada hari terakhir tanaman dicabut untuk dihitung jumlah akarnya.

  1. B. Pembahasan

Pada praktikum diatas dapat dilihat bahwa gambut memiliki potensi yang besar dalam bidang pertanian. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan dari tanaman yang diuji cobakan pada tanah tersebut. Pada perlakuan-perlakuan yang diberikan, yaitu tanah gambut yang dikeringkan dan tanah yang tidak dikeringkankan memberikan dampak yang cukup nyata terhadap pertumbuhan kacang-kacangan. Pada tanah yang dikeringkan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tanah yang tidak dikeringkan. Hal ini terkait dengan kandungan unsur hara yang terdpat didalam tanah gambut tersebut.

Berikut merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah gambut, yaitu :

  1. Ketebalan gambut

Pada daerah pengambilan sampel tanah gambut., kedalaman gambutnya rendah, sehingga kesuburan gambut masih cukup baik karena input hara dan air selain berasal dari hujan, juga berasal dari aliran/limpasan air sungai pada saat air pasang. Lahan gambut ini cocok untuk dijadikan sebagai lahan budi daya tanaman dan pemukiman. Gambut ini dinamakan gambut topogen. Selain itu ada pula gambut yang miskin unsure hara, gambut ini disebut gambut ombrogenus (terbentuk semat mata di bawah genanagn air  hujan). Gambut ini memiliki kadar abu, PhH dan kadar basa yang rendah..

  1. Letak daerah gambut

Pada praktikum ini, pengambilan sample pada daerah yang cukup terbuka dan bukan pada daerah pedalaman. Hal ini erat kaitannya dengan kesuburan pada tanaha gambut tersebut. Gambut pada daerah pedalaman pada umumnya kurang subur dibandingkan dengan gambut pada daerah dekat pantai.

Selain itu, pada data yang telah didapat di atas dapat dilihat bahwa ada satu jenis tanaman yang tidak tumbuh sama sekali pada semua tanah perlakuan, baik tanah gambut basah maupun ynag telah dikeringkan. Tanaman itu adalah kacang buncis. Hal ini terkait dengan tingkat keasaman dari tanah gambut tersebut yang tidak memungkinkan bagi buncis untuk tumbuh, karena buncis membutuhkan media tanam yang PH-nya sesuai dan memiliki kadar unsure hara yang cukup tinggi.

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang bergambut. Dari praktikum diatas dapat dilihat bahwa ketersediaan gambut yang cukup melimpah di Kalimantan Barat dapat dijadikan sebagai salah satui alternative dalam pemanfaatan lahan guna peningkatan kesejahteraan rakyat Kal-Bar.

Lahan gambut yang terdapat di Kal-Bar dapat dikategorikan cukup subur, hal ini terkait dengan sifat fisik dari gambut tersebut yang telah diterangkan diatas. Untuk itulah perlu adanya upaya yang terpadu guna meningkatkan kualitas dari lahan gambut yang ada pada daerah ini.

BAB IV

PENUTUP

A Kesimpulan

Berdasarkan analisis dari data praktikum yang telah dilakukan di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Tanah gambut di Kalimantan Barat memiliki potensi yang cukup besar dalam pemanfaatannya sebagai lahan pertanian dsan perkebunan.
  2. Pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan pertanian memrlukan perlakuan khusus guna menghasilkan produktivitas yang lebih  tinggi.

  1. Saran
  1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut terkait dengan peningktan kadar hara yang terdapat didalam tanah gambut.
  2. Praktikum diharapkan dapat dilaksanakan lebih awal dari waktu sebelumnya sehingga pemahaman mahasiswa dapat lebih terasah dan tidak tergesa-gesa.

DAFTAR PUSTAKA

Sagala, Porkas. 1994. Mengelola Lahan Kehutanan Indonesia. Yayasan obor Indonesia : Jakarta..

Jhon dan Kathi Mackinnon. 1990. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di daerah Tropika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Kieley, Jack dan Susan Page. 2002. Peatlands for People Natural Resources Function and Sustainable Management. Ril Nusa Indah. Jakarta.

Hadisuparto, Herujuno. 1998. Prosiding Seminar Nasional Gambut 3. HGI Universitas Tanjungpura. Pontianak.

http://erizco.wordpress.com

About these ads

Aksi

Information

One response

3 06 2013
Magic Bullet express

Great: The top surface is simply most of the motorcycle from
the juice machine. Strain containers to # 1 for you to in an ” possibly considerably less. , conveniently traveling, it’s auto-magically acquire wheat-grass liquid, with this kind of juice extractor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: