Dampak Pemanfaatan Gambut Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Gambut Terhadap Lingkungan

15 04 2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Lahan gambut adalah lahan basah yang memegang peranan penting sebagai benda ekstraktif dan non-ekstraktif. Sebagai bahan ekstraktif, gambut bisa dimanfaatkan sebagai bahan energi semisal dijadikan briket, atau diambil asam humatnya, dijadikan media semai atau media untuk reklamasi lahan kering.

Sedangkan sebagai bahan non-ekstraktif, gambut berfungsi sebagai penyokong biodiversitas, sebagai hutan, perkebunan, dan pertanian.Namun fungsi yang paling mengemuka adalah kemampuannya menyimpan air, gambut bisa menyimpan 90 persen volume air hingga ekosistem ini diharapkan bisa menyangga hidrologi kawasan sekitar agar tidak kebanjiran dan supaya tidak tergerus intrusi air laut.

Bila musim kemarau datang, gambut memberikan pasokan airnya ke daerah sekitarnya dan kawasan itu tidak rawan api karena masih tergenang air yang cukup.

Selain itu, gambut juga memiliki kandungan karbon yang tinggi.Walaupun hanya sekitar 3 persen dari total luas daratan bumi, gambut sanggup menyimpan 30 persen karbon dunia.Dengan kedalaman 20 meter luasnya bias mencapai 200.000 km persegi dan diperkirakan simpanan karbo mencapai 50 miliar ton.

Gambut terus terdegdradasi dalam hal luasan dan kualitas. Kerusakan lahan gambut, yang akhirnya dapat menghilangkannya sama sekali, terutama disebabkan oleh tindakan manusia. Tindakan manusia yang berdampak merusak langsung ialah :

  1. Konservasi gambut sebagai energi pembangkit listrik
  2. Pengatusan (drainage) untuk budi daya, permukiman, dan pengendalian nyamuk.
  3. pembuatan bendung (dyke), bendungan (dam), tanggul, dinding penolak air pasang, dan jaringan saluran, serta pengubahan aliran sungai.
  4. Ameliorasi kimia dalam rangka pembudidayaan.
  5. Penggunaan yang memacu erosi dan amblesan (subsidence).
  6. Penambangan gambut.

  1. B. Perumusan Masalah

Indonesia berpotensi sebagai penghasil gas karbon terbesar dunia, mengalahkan Amerika Serikat. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Herwint Simbolon, menyatakan, sementara Amerika bertanggung jawab atas asap pabrik yang meningkatkan pemanasan global, Indonesia punya andil lewat perusakan lahan gambut.

Lahan gambut yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sekitar 38 juta hektare, mulai Sumatera sampai Papua Barat, itu sesungguhnya gudang penyimpanan gas karbon. Perusakan gambut yang terjadi akibat pembukaan lahan menyebabkan gas rumah kaca itu terlepas ke atmosfer. Akibatnya, panas yang hendak dipantulkan tertahan di atmosfer dan memanaskan bumi.

Penelitian hasil kerja sama LIPI dan Japan Society for Promotion of Science, mencatat  bahwa pada tahun 2005, produksi gas karbon dari lahan gambut di sekitar kanal di Sungai Kayahan, Kalimantan Tengah, mencapai lebih dari 300 gram karbon per meter persegi tiap tahun. Angka itu sedikit lebih tinggi dibanding gas rumah kaca yang dilepas wilayah itu pada 2004, di bawah 300 gram karbon per meter persegi tiap tahun.

Saat ini perhatian dunia internasional, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, pada lahan gambut di Indonesia semakin besar. Pasalnya, di kawasan hutan gambut tropika, vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon, emisi karbon, dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya antarnegara.

Para ilmuwan Cina telah memperingatkan bahwa lubang ozon seluas 2,5 juta kilometer persegi mungkin sedang terbentuk di atas dataran tinggi Tibet. Demikian laporan media pemerintah.Meskipun belum dipastikan sebagai lubang ozon reguler, seperti yang terjadi di dua kutub, daerah tersebut telah mengalami kemerosotan dramatis kepekatan ozon dalam beberapa tahun belakangan.

Selain itu,dengan adanya upaya pembuatan energi listrik tenaga gambut juga akan berdampak pada sistm hidrologi. Gambut yang memiliki kemapuan sangat besar dalam penyerapan air akan mengalami gangguan sangat dahsyat apabila pemanfaatannya tidak memperhatikan etika lingkungan. Misalnya di Kal-Bar yang merupakan daerah dengan ktinggian 1 meter diaas permukaan laut, dapat menjaga sisitem hidrologinya dengan ketersediaan  gambut  yang besar. Berdasarkan uraian diatas, dapatlah dirumuskan pokok permasalahan, yaitu : Apa dampak pengeksploitasian gambut untuk energi listrik terhadap peningkatan kadar CO2 dipermukaan bumi dan terhadap kerusakan siklus hidrologi.

  1. C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari eksploitasi gambut terhadap peningkatan kadar CO2 dipermukaan bumi dan terhadap kerusakan siklus hidrologi.

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang pentingnya keberadaan gambut untuk dilestarikan karena dalam peeksploitasian gambut tersebut selain memberi dampak positif terhadap ekonomi bangsa ternyata dampak negatif yang ditimbulkan adalah  cukup berbahaya terhadap kelesterian lingkungan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Tanah Gambut

Taksonomi tanah (Soil survey Staff, 1975) dalam Halim dan Bustoni (1997 : 2) mendefinisikan gambut sebagai tanah yang mengandung bahan organic >20% (bila tanah tidak mengandung liat) atau lebuh dari 30% (bila tanah mengandung liat > 60%) dan tebalnya secara kumulatif >40 cm. Bila ketebalan gambut kurang dari 40 cm dikategorikan sebagai tanah bergambut.

Menurut Maltby (1992) dalam Rifani (1996 : 4) gambut adalah akumulasi bahan organic yang merupakan hasil perombakan yang tidak sempurna dari sisia jaringan tanaman yang mati pada suatu kondisi air yang melimpah dalam keadaan anaerob.

Tanah gambut terbentuk hamper di seluruh Negara di dunia. Luasnya diperkirakan sekitar 394 juta ha, diantaranya sekitar 31 juta hektar atau 7,85% terdapat di daerah tropika, yaitu Asia Tenggara, Amazone Carribean, USA dan Afrika. Di Asia Tenggara tanah gambut sebagian besar terdapat di Indonesia dan Malaysia.

Menurut (Buckman dan Brady, 1982 : 436) dalam Yuniar (1999 :8) gambut terbentukdari pelapukan bahan organic yang sebagian besar disebabkan oleh agensia cendawan, bakteri anaerob, ganggang dan tipe tertentu hewan mikrokopik dengan merombak jaringan organic, membebaskan gas dan menunjang sisa humus. Jika dekomposisi telah lanjut bahan organic ini mendapat cirri-ciri profil sedemikian rupa sehingga menguatkan penunjukannya sebagai suatu bahan organic yang sebenarnya.

Gambut adalah onggokan bahan organik yang tersusun dari bahan kayuan atau lumut yang terjadi akibat kecepatan penimbunan  lebih tinggi dibandingkan dengan penguraiannya.

Sebagai hasil dekomposisi anaerobik, tanah gambut mengandung  asam-asam   organik, baik yang humanik maupun yang non-humanik. Asam-asam organik tersebut merupakan komponen koloid yang utama dan penting dalam gambut. Dilain pihak tanah-tanah mineral memiliki kandungan bahan organik yang rendah.

Di Indonesia, kecepatan penimbunan di perkirakan  berkisar antara 8-40 cm per 100 tahun. Perbedaan kecepatan ini disebabkan oleh suhu dingin (di daerah non-tropis) dan curah hujan yang tinggi (di daerah tropis). Proses pembentukan gambut berlangsung selama ribuan tahun. Gambut kalimantan, contohnya, terbentuk sekitar 800 hingga 5000 tahun yang lalu.

Ketebalan gambut sangat bervariasi antara 0,5 meter hingga 20 meter, kawasan gambut di Kalimantan dan Sumatra yang kedalamannya sampai 20 meter bisa 200.000 km persegi, dan diprkirakan simpanan karbonnya mencapai50 miliar ton. Indonesia merupakan negara yang mempunyai cadangan gambut terbesar keempat didunia, cadangan gambut tersebut setara dengan 286 BBOE (billion barrels oil equivalent) yang merupakan 55,94 % dari total sumber daya energi fosil di Indonesia (Suhala, 1996). Saat ini keberadaan lahan gambut di Indonesia semakin dirasakan peran pentingnya, terutama dalam hal kemampuan menyimpan karbon dioksida (CO2), salah satu jenis gas rumah kaca, dan siklus hidrologi serta memelihara keanekaragaman hayati.

Lahan gambut, walaupun hanya sekitar  3 % dari total luas daratan Bumi, akan tetapi sanggup menyimpan 30 % karbon dunia. Luas lahan gambut di seluruh dunia berkisar 38 juta hektar dengan lebih dari separuhnya berada di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia diperkirakan seluas 26 juta hektar ( Driessen dan Supraptohardjo, 1994), dan hampir semuannya ada di luar pulau jawa, yakni pulau Sumatra 8,9 juta hektar, pulau Kalimantan 6,3 juta hektar, dan yang terbesar ada di pulau Irian yakni 10,9 juta hektar.

Kawasan gambut, yang mempunyai fungsi perlindungan antar lain perlindungan morfologi setempat

  1. Perlindunagan pada fungsi hidrologi wilayah atau tata air, yaitu sebagai kawasan resapan, penyimpan air dan pencegahan banjir.

  1. Perlindungan pada ekosistem yang khas di kawasan bergambut.
  2. Perlindungan pada pemanfaatan gambut.

Adapun objek yang dilindungi adalah :

  1. Ekosistem hutan gambut dan perairannya.
  2. Morfologi peraiaran di kawasan gambut.

  1. B. Hutan Rawa Gambut

Menurut (Purwowidodo, 1991 :123) dalam Yuniar (1999 : 15) gambut di Indonesia diperkirakan mulai terbentuk sekitar 5000 tahun silam dan sebagian menempati daerah cekungan sangat luas yang terletak diantara sungai besar dan tepi pantai. Banyaknya longgokan gambut ini disebabkan karena paduan keadaan topografi yang sesuai, curah hujan yang melebihi penguapannya dan sedikitnya kandungan debu di sungai.

Soerianegara (1978 : 43) mengemukakan bahwa hutan rawa gambut adalah semacam hutan rawa, tetapi tumbuh diatas lapisan gambut yang tebalnya 1-20 m dan digenangi air gambut yang berasal dari huja dan tanah organosol.

Gambut Omrogen merupakan gambut yang banyak dijimpai di Indonesia. Permukaan lahan gambut Ombrogen lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan air disekelilingnya, sehingga tumbuhan yang dapat hidup diatasnya mendapat pasokan hara dari air hujan, uraian bahan gambut dan uraian tubuh tumbuhan sendiri.

Menurut Poerwidodo, 1991 : 124) dalam Yuniar,tipe gambut ombrogen umumnya ditemui di tepi pantai dengan ketebalan dapat mencapai 20 meter, air atusannya asam dan miskin hara khususnya K, Ca dan P.

Gambut topogen relative kaya unsure hara karena adanya sirkulasi hara mineral dari bagian bawahnya oleh kegiatan akar-akar tanaman maupun pengaruh pasang surut air sungai disekitarnya (Bapeda Tingkat I Riau, 1993 : 35)

Komposisi khas hutan gambut di Kalimantan terdiri dari asosiasi kayu ramin (Gonystylus spp). Tinggi pohon di lahan gambut ini dapat mencapai 30 m terutama di tepi lahan. Hal ini dapat dikaitkan dengan genesa gambut tersebut. Semakin ke tengah dirajai oleh pohon yang semakin pendek, seperti : tristania obovata dan Ploiarium alternifolium. Ketidakmampuan pohon-pohon tumbuh optimal di bagian tengah lahan gambut dikarenakan keadaannya sangat ekstrim,khususnya gatra PH dan ketersediaan hara bagi tanaman.

Menurut Poerwidodo (1991 : 124) dalam Yuniar, jenis tumnuhan hutan gambut yang telah banyak dimanfaatkansecara intensif adalah Ramin  (Gonystylus spp), Damar (Agathis Borneensisi), Meranti (Shorea sp), dan rotan (Callamus sp). Jenis tumbuhan ini merajai kawasan tepi lahan gambut.

  1. C. Gambut sebagai Energi

Endapan gambut mempunyai sifat relatif heterogen, yang terdiri dari bahan organik  dan anorganik myang sangat komplek. Gambut yang mengalami dekomposisi lemah (H 1-2) biasanya kurang cocok untuk bahan energi, sedangkan apabila mengalami dekomposisi secara menengah hingga tinggi (H 5-10) biasanya cocok untuk bahan energi.

Komponen organik berupa karbon hidrogen ( K=53-58 dan H=5-6) yang terkandung di dalam gambut adalah komponen yang sangat penting dalam pemanfaatan gambut sebagai bahan energi. Kemampuan yang spesifik dari proses dekomposisi gambut adalah apabila komponen karbon dan nitrogen meningkat, maka komponen oksigen dan hidrogen akan mengecil yang berarti kandungan airnya akan mengecil, sebagai akibatnya nilai kalori gambut menjadi cukup tinggi  ( 4.400-5.900 kal /g). hubungan antara komponen-komponen organik seperti karbohidrat, asam humat, lignin, dan bitumen mempunyai pengaruh pada intensitas phase pembakaran.

Komponen organik yang terdapat pada gambut adalah  SiO2, Al2O3, CaO, dan Fe2O3. apabila di dalam gambut terdapat CaO dan Fe2O,maka akan menurunkan titik lebur dari abu. Selain kandungan abu pada gambut relatif rendah yaitu kurang dari 3%, gambut juga mengandung sulfur yang rendah 0,05 – 0,20 % ( kondisi ini akan sangat menguntungkan terhadap lingkungan pemanfaatan setempat).

Berdasarkan analisa petrografi, persentase kandungan mineral vitrinit (berasal dari unsur  kayu yang terawetkan) yang terdapat digambut adalah sekitar 95 % ( kondisi mini ada kesamaannya dengan batu bara).


BAB III

METODE PENULISAN

  1. A. Tempat dan Waktu Penulisan

Tulisan ini dibuat di Pontianak, dengan waktu efektif selama satu minggu.

  1. B. Bahan dan Alat Penulisan

Adapun bahan yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah data skunder, buku-buku literature yang menunjang serta data-data dari internet, sedangkan alat yang digunakan adalah alat tulis menulis dan seperangkatnya.

  1. C. Metode Penulisan

Study literature yang mendapatkan atau memperoleh data dan fakta dari buku-buku serta litelature-litelature yang menunjang.

  1. D. Analisa Sintesa

Setelah dilakukan pengumpulan data, penulis kemudian melakukan pengolahan analisa secara kualitatif lalu menarik kesimpulan dan generalisasi.


BAB IV

PEMBAHASAN

  1. A. Pelepasan CO2 Pada permukaan lahan Gambut

Pembentukan terjadinya gambut di daerah tropika seperti di Indonesia berbeda dengan terjadinya gambut didaerah yang beriklim sedang dan dingin. Penyebab utama terjadinya gambut di daerah iklim sedang dan dingin adalah suhu yang dingin dan kondisi yang jenuh air sehingga proses okdsidasi berjalan sangat lambat. Sedangkan penyebab utama terjadinya gambut di daerah troika adalah kelebihan air dan kekurangan oksigen serta PH yang endah (Tim riset Gambut,1994).

Pada tanah gambut yang belum dibuka, akumulasi tanaman yang mati lebih cepat dibanding dengan dekomposisinya sebab kondisi anaerob dalam gambut. Dengan kondisi tersebut, tanah gambut yang belum dibuka (diproduksi), dengan pengertian tanaman yang ada diatasnya dihilangkan, penyingkiran penghalang/penutup tanah gambut dan jga pembentukan saluran irigasi sehingga ada kontak dengan lingkungan luar (udara, sinar matahari dan lain-lain) akan mengakibatkan berhentinya akumulasi karbon. Proses yang terjadi adalah dekomposisi gambut berlangsung lebih cepat dibanding pada kondisi lahan yang belum dibuka. Sebagai hasilnya adalah dekomposisi pada permukaan gambut oleh yang belum dibuka. Sebagai hasilnya adalah dekomposisi pada permukaan gambut oleh mikroorganisme pada kondisi anaerob dengan hasil CO2 dan pada zona lebih dalam terjadi reaksi anaerob. Gas yang iproduksi pada kedalaman tertentu (reaksi anaerobik) selama dekomposisi naik ke atas dengan diffusi. Fraksi terbesar gas yang diproduksi pada lahn gambut lapisan dalam adalah bentuk gas metana (Adams,1990). Laju CO2 yang dilepaskan dari gambut dapat diukur dengan cara tertentu (Ahlholm, 1990), dengan demikian emisi CO2 yang dilepaskan oleh lahan gambut dapat diprediksi.

Untuk mengetahui jumlah emisi CO2 yang terlepas ke udara bebas,perlu mengetahui laju CO2 yang dilepasakan oleh gambut. Ahlholm dkk (1990) telah  melakukan penelitian pada bermacam-macam gambut di Ilomantsi (finlandia bagian timur) pada berbagai temperatur sekitar 15-30 C (musim panas), emisi CO2 yang dilepaskan oleh gambut berkisar antara 100-400 mg m jam. Memurut Ahlholm, emisi CO2 tertinggi dicapai pada bulan  September, meskipun temperatur permukaan lapisan gambut pada bulan tersebut lebih rendah dibandingkan pada temperatur awal musim panas. Hal ini disebabkan karena kondisi  kelembaban optimal untuk aktifitas mikroorganisme tercapai pada bulan September.

  1. B. Kontribusi Emisi CO2 oleh pembuangan lahan gambut Terhadap Emisi CO2 Total Penggunaan Energi Indonesia

Untuk memperkirakan jumlah emisi CO2 yang ditimbulakn oleh penggunaan berbagai jenis energi dapat dilihat pada tabel 1. Tabel tersebut menunjukan jumlah emisi CO2 pemakaian berbagai energi primer untuk tahun 1993. Perhitungan pada tabel 1 dilakukan berdasarkan konsumsi tiap jenis energi pada tahun bersangkutan. Energi yang berasal dari biomass dianggap seluruhnya untuk rumah tangga dengan memakai tungku tradisional dan perkiraan emisi CO2 dihitung berdasarkan emisi CO2 yang dibuat oleh Manfred Kleeman. Laju pertumbuhan  pemakaian energi Indonesia sekitar 6% pertahun, maka emisi CO3 yang akan dikeluarkan sepanjagng tahun 1997 dapat dihitung sebesar 480 juta ton per tahun.

Data mengenai emisi CO2 yang dolepaskan oleh gambut sebesar 400 mg m jam tersebit merupakan emisi CO2 tertinggi dari gambut Finlandia, yang merupakan jenis gambut lain dengan gambut Indonesia. Ahlholm (1990) mengukur emisi CO2 pada musim panas untuk berbagai janis gambut didapat laju  emisi CO2 antara 100-400 mg m jam,sedangkan pada musim dingin laju emisi CO2 kurang dari 100mg m jam. Dan perlu di ketahui bahwa Ketika sudah rusak, lahan gambut susah pulih.

Peran gambut sebagai daerah resapan air memang tidak dapat diragukan baik ditinjau dari lokasi pembentukannya ada status fisiografi rendah maupun dari sifat fisiknya. Gambut ombrogen yang merupakan cembungan (dome) dan terbentuk pada awalnya dari cekungan oligotrofik sangat besar pengaruhnya sebagai daerah resapan dan cadangan air. Fungsi hidrologis yang besar dari gambut tersebut merupakan salah satu pertimbangan konservasi terpenting dalam upaya pemanfaatannya. Lokasi lahan gambut didaerah perhuluan akan sangat berpengaruh pada konservasi hidrologi daerah aliran di hilirnya, sedangkan lokasinya dekat daerah estuari akan sangat dierlukan dalam menjaga intrusi air laut dan menyerap kelebihan/limpasan air kiriman dari hulu atau air pasang. Sifat gambut oligotrofik yang masih mentah dengan berat jenis yang sangat rendah, termasuk lapisan yang lebih dalam pada gambut otrofik, mempunyai kemampuan manahanair (water holding capacity) sangat besar bahkan sampai sepuluh kali lipat dari berat keringnya, tergantung pada bahan penyusun gambutnya. Sifat hidrologis bahan organik initidak dapat digantikan oleh jenis-jenis tanah lainnya, oleh karena itu fungsi konservasinya sangat besar.

Selama vegetasi hutan yang ada tetap memberikan inut serasah ke lantai hutan pada kondisi jenuh, maka lapisan gambut akan tetap terbentuk karena proses dekomposisi (humufikasi dan mineralisasi) bahan organis tidak dapat mengimbanginya. Sekali vegetasi (hutan) pada lahan gambut terbuka atau ditebang habis, maka pada saatnya lapisan gambut akan musanah. Biasanya lapisan liat mineral (aluvial) atau bahkan pasir kwarsa akan menggantikan lahan gambut setelah 20-40 tahun tergantung pada intensitas pengolahan dan ketebalan gambut aslinya. Proses subsiden lanjut seperti ini perlu diantisipasi karena dataranaluvial tersebut akan mudah tergenang dan rawan banjir.

  1. C. Kendala Dalam Pemanfaatan Lahan Gambut

Pemanfaatan lahan gambut di negara-negara maju telah berkembang baik untuk keperluan budi daya pertanian/kehutanan maupun energi dan lainnya. Pemanfaatan gambut untuk energi di Finlandia Swedia dan Kanada dapat diperkirakan terjadi pada gambut yang ketebalannya besar yaitu tipe gambut ombrogen. Hal ini dimungkinkan karena disamping kedalaman/potensi yang besar juga variasi kematangan serta kandungan karbon dan hidrogen yang dapat menghasilkan kalori ebih besar. Di Indonesia perhitungan ekonomi produk energi dari bahan gambut tersebut masih belum menjanjikan dasam[ing pertimbangan biaya lingkungan yang ahrus dikeluarkan.


BAB V

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data-data dan informasi di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Eksploitasi gambut ternyata memiliki dampak yang sangat nyata terhadap peningkatan kadar CO2 di permukaan bumi yang mengakibatkan Indonesia menjadi negara penyuplai  CO2 kedua terbesar di dunia setelah Amerika.
  2. Siklus hidrologi akan menjadi rusak diakibatkan karna media penyerapan airnya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi.
  3. Pemanfaatan gambut sebagai enrgi listrik sebaiknya tidak hanya dilihat dari keuntungan Ekonomis saja akan tetapi harus dilihat juga  dari efek negatif yang ditimbulkan terhadap lingkungan
  4. B. Saran
    1. Perlu dilakukan riset yang lebih mendalam tentang konservasi lahan gambut agar tidak terjadi pengeksploitasian yang berlebihan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem di alam.
    2. Pemerintah mempertegas peraturan terkait pemanfaatan gambut agar didapat kesepahaman dalam pengelolaan dan pengembangan lahan gambut.

DAFTAR PUSTAKA

Sagala, Porkas. 1994. Mengelola Lahan Kehutanan Indonesia. Yayasan obor Indonesia : Jakarta..

Jhon dan Kathi Mackinnon. 1990. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di daerah Tropika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Kieley, Jack dan Susan Page. 2002. Peatlands for People Natural Resources Function and Sustainable Management. Ril Nusa Indah. Jakarta.

Hadisuparto, Herujuno. 1998. Prosiding Seminar Nasional Gambut 3. HGI Universitas Tanjungpura. Pontianak.

https://erizco.wordpress.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: